Featured

Alkitab Adalah Firman Allah Yang Hidup

Alkitab adalah firman Allah yang ditulis oleh para rasul berdasarkan ilhaman dari Roh Kudus dan diturunkan kepada manusia melalui tulisan. Belajar Alkitab adalah menemukan pikiran Kristus karena Alkitab berisi pikiran Kristus. Mengapa semua Alkitab hanya menceritakan tentang Kristus? Jawabannya adalah karena Alkitab ditulis oleh para rasul oleh ilhaman dari Roh Kudus dan setiap ilhaman yang berasal dari Roh Kudus adalah ajaran yang berasal dari Allah dan ajaran itu berisi tentang Kristus. Ajaran Allah berisi tentang Kristus karena Kristus adalah Firman Allah. Kristus adalah Firman Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Dia berasal dari Allah dan Ia keluar dari Allah (Yohanes 8:42). Pikiran Kristus adalah pikiran Roh Kudus dan pikiran Roh Kudus adalah pikiran-Nya Allah. Firman itu telah ditetapkan oleh Allah dari mulanya. Belajar tentang Kristus berarti belajar segala sesuatu.

Jika kita belajar tentang Kristus maka kita belajar tentang Allah dan siapa diri kita, apa itu dosa, belajar tentang keselamatan yang bawa oleh Yesus Kristus supaya kita menjadi manusia yang baru dan akan kembali menjadi serupa dan segambar dengan Kristus (belajar Theosis).

Di dalam PL Kristus sudah ada (Kej.1:1). Allah telah menetapkan Dia dari semula untuk menciptakan segala sesuatu. Dalam Perjanjian Lama juga Firman itu telah datang kepada nenek moyang kita melalui perantaraan nabi-nabi (Ibrani 1:1). Tetapi dalam PB Firman itu sendiri telah tergenapi. Artinya telah menjadi wujud dan nyata. Bukan bayang-bayang lagi seperti yang di Perjanjian Lama. Firman itu telah menjadi manusia dan datang di tengah-tengah manusia. Zaman PL Firman itu hanya di berikan sedikit-sedikit kepada para nabi untuk di sampaikan kepada umatnya. Seperti Firman itu datang kepada nabi Musa hanya sedikit, nabi Daniel sedikit, nabi Nuh sedikit dan begitu juga seterusnya. Para nabi yang di Perjanjian Lama telah menerima Firman itu dari Allah karena Allah berbicara langsung kepada mereka. Dan semua firman itu di sampaikan secara lisan kepada anak-anak atau keturunan mereka secara lisan. Zaman PL banyak memberikan gambaran atau bayang-bayang tentang Kristus yang akan datang nantiny. Contohnya Tabernakel yang berarti kemah suci dan itu menggambarkn bahwa Allah hidup di tengah-tengah umatnya. Begitu juga di Perjanjian Baru, Kristus adalah kemah suci itu sendiri dan telah hadir di tengah-tengah kita. Benar sekali sekarang di dalam PB Firman itu telah ada, telah tergenapi bukan hanya nubuatan lagi tetapi telah berwujud menjadi manusia dan membawa kabar baik yaitu kabar karya keselamatan bagi seluruh manusia. Jadi, tidak ada yang perlu diragukan akan firman itu lagi. Cuman sekarang ini, karena Karya penebusan Kristus telah selesai, Kristus telah disalibkan, mati, dikubur untuk mengalahkan maut, dan bangkit memenangkan semua kutuk dosa telah di patahkan dan Kristus aada bersama-sama dengan Allah di surga. Semua kisah-kisah-Nya di tulis oleh para rasul melalui tuntunan Roh Kudus dan disusun secara sistematis sehingga menjadi sebuah buku yang berisi Firman Allah (Kristus). Alkitab bukanlah Kristus tetapi isi Alkitab adalah Firman Allah yang telah berinkarnasi itu yaitu Kristus. Jadi, jika anda membaca Alkitab berarti Anda sedang membaca Kristus. Mencari tahu tentang Kristus sampai kita mengeal Dia sampai mencapai gambar dan rupa Kristus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dogmatika 4 tugas ke-13

Gereja yang menang dan militant

            Gereja yang militant adalah gereja yang di bumi dan gereja yang menang adalah di Firdaus. Baik gereja yang militant maupun yang menang sama-sama didirikan oleh Kristus. Gereja yang militant adalah gereja yang kelihatan.  Sedangkan gereja yang menang adalah mereka yang sudah menyelesaikan pertandingan mereka dan berada di Firdaus.  Mereka adalah gereja yang sudah menang atas dosa (Kolose 3:19-20). Untuk itulah kita harus mengingat mereka (Ibrani 13:7). Kita membutuhkan doa mereka untuk kita yang masih berjuang di dunia. Kita juga membutuhkan doa dari para malaikat (Zakharia 1:12-13). Hal ini menunjukkan bahwa ada doa untuk orang-orang benar dari para malaikat (Lukas 15:10). Ini menunjukkan bahwa malaikat juga memperhatikan kita.  Malaikat berdoa untuk  gereja yang masih berjuang di bumi ini. Karena doa orang benar sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16).  Doa orang benar adalah termasuk doa orang-orang kudus yang di Firdaus itu. mereka mengasihi kita dengan kasih yang tidak pernah berkesudahan.

Di dalam doa, kita bukan berdoa kepada para malaikat. Tapi, kita berdoa kepada Allah melalui Kristus di dalam Roh (1 Timotius 2:5). Yesus adalah pengantara antara Allah dengan manusia. Sesama anggota Kristus bisa saling mendoaka, tetapi tetap saja kembali kepada mediator yang sah. Meneladani iman mereka bukan berarti menyembah atau mengikut mereka.

Alkitab adalah logos dari Kristus yang di catat. Dan Firman Allah di dalam Allakitab itu adalah logosnya Kristus melalui Roh Kudus yang ditulis oleh pra hagios. Siapa orang-orang kudus itu? mereka yang berada di dalam Kristus (Filipi 1:1). Orang kudus adalah mereka yang ada terang Tuhan di dalam mereka.

Our Soul After Death Tugas ke-12 Dogmatika 4

            Manusia setelah meninggal akan memasuki 2 alam yaitu Firdaus (Pangkuan Abraham) dan Hades. Untuk menuju firdaus, roh atau jiwa manusia melewati tangga yang disebut tool houses. Ada 2 macam penghakiman yang akan diterima yaitu partial judgement (penghakiman sebagian) dan final judgement (penghakiman akhir). Firdaus disebut paradise. Penghakiman akhir dapat kita lihat dalam Lukas 16:19-31.

            Setelah manusia meninggal jiwanya meninggalkan tubuhnya. Orang benar akan masuk ke paradise (Lukas 23:43; Kis. 1:11; 2 Timotius 4:8). Sedangkan orang-orang yang tidak benar mengalami penghakiman di gehena (Matius 5:22,24). Cerita orang kaya dan Lazarus menunjukkan intermediate judgement. Kematian tubuh bukan berarti jiwa kita juga mengalami kematian. Tetapi, pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang ke dua, tubuh kita akan dibangkitkan. Sedangkan jiwa kita akan melewati tangga toll houses itu samapi ke firdaus.  Alkita memberikan 6 tanda dimana akan terjadi penghakiman:

  1. Ketika injil sudah diberitakan (Matius 24:14)
  2. Bertobatnya Israel kepada Kristus (Roma 11:25-26)
  3. Munculnya Elia dan Henokh (Wahyu 11)
  4. Muncunya anti Kristus
  5. Pemurtadan secara massal
  6. Perang, revolusi, dan gempa bumi (Matius 24:6-8).

Alkitab dan tradisi gereja banyak berbicara tengtang penghakiman akhir. Walaupun kita harus melihat bahwa dunia bertambah tumbuh secara perlahan. Lebih baik sampai manusia itu sukses mendirikan kerajaan Allah di bumi. Bagaimana sikap kita menghadapi peristiwa-peristiwa yang akan datang ini? Kallistos Ware mengatakan bahwa semua itu nanti dikalahkan oleh kedatangan Kristus yang ke dua kali. Itulah sukacita dan pengharapan kita. Jadi, kita merindukan Yesus segera datang untuk mengalahkan semua kejahatan di bumi.

            Final judgement ini mengajak kita untuk berjaga-jaga. Saat itu terjadi, yang mati akan dibangkitkan, mengenakan manusia baru, ada kebangkita tubuh da nada surga dan neraka. Nanti ada pengikut Kristus yang ikut ke surga tapi ada pengikut anti Kristus yang ikut iblis ke Hades.

Summery:

  1. Eksatologi adalah hal-hal yang terjadi pada hari penghakiman
  2. Dalam kehidupan ini, kita ada di dalam rumah bapa kita
    1. Bagaimana kita menghadapi eksatologi?
    1. Berjaga-jaga
    1. Pemurnian
    1. Pengudusan
    1. Pemuliaan/glory

Bagaimana kita menghadapi kematian itu, bahwa nanti kita akan menghadapi satu alam yang menjadi hal baru buat kita. Kematian itu hanyalah perpindahan dari rumah kita sendiri. Kematian itu adalah perpindahan dari kamar kita ke kamat Bapa kita.  Dan kita akan tinggal di rumah yang kekal dan bukan lagi tenda.  Sebab kita datang dari Allah dan pastinya kita kembali kepada Dia.

3.     Dalam partial judgement, kita akan mencicipi penghakiman itu

4.     Melihat kematian itu menuju pada kemuliaan bukan ketakutan

Jiwa setelah berpisah dari tubuh akan mengingat semua yang terjadi dalam hidupnya. Biasanya orang-orang mati itu akan melihat keadaan jiwa mereka. Jiwa kita itu punya spiritual vision. Ketika jiwa itu meninggalkan tubuh, maka jiwa itu melihat dirinya bersama dengan roh-roh lainnya, baik itu roh yang baik maupun roh yang jahat.  Hari pertama sampai hari ke dua setelah kematian ada malaikat yang menemani. Pada dua hari pertama setelah kematian, biasanya jiwa kita bebas mengunjungi tempat-tempat di mana ia suka. Tetapi, pada hari ketiga, ia masuk ke dalam alam yang lain. Setiap orang punya malaikat penjaga. Dalam  dua hari pertama itu, ia mulai melepaskan perasaan sedihnya. Pada hari kedua, jiwa itu masih diijinkan untuk ada di bumi dan masih ditemani para malaikat. Ada juga jiwa yang tidak mau lepas dari tubuhnya. Artinya dia masih terikat pada rumahnya. Dia masih menatapi tubuhnya. Oleh karena itu, Tuhan mengijinkan dia melepaskan kesedihannya itu. barulah pada hari ketiga mereka melewati toll houses. Bagi jiwa yang baik, dia gak akan berat meninggalkan tubuhnya.

John Damasscus mengatakan “Keadaan jiwa saat di bumi setelah mati dalam 2 hari itu ada di bumi. Dia bisa melihat tapi tidak bisa berbicara ataupun kontak. Jiwa itu bisa melihat ataupun menaahkan matanya kepada para malaikat.” Theophan mengatakan “Tubuhnya memang sakit tapi jiwanya pergi ke tempat yang lain”. Di tempat dimana ia bisa hidup. Kita yang meratapi orang meninggal tapi bagi mereka yang meninggal sedikit lebih berbahagia karena jiwa mereka terlepas dari tubuh yang sakit itu.

The Toll Houses

            Pada hari ketiga, jiwa itu akan melewati toll-toll/ legion/of evil. Iblis-iblis itu akan menuduh dia dan akan mengganggu jalannya ke firdaus. Karena pada waktu ia hidup, dia juga melakukan dosa-dosa tertentu. Inilah yang disebut partial judgement. Toll houses itu akan dilewati sebanyak 20 toll dimana setiap toll-houses itu satu dosa atau beberapa dosa akan diuji sampai dia bisa melewati 20 toll. Setiap toll-houses ada banyak sekali evil-evil yang akan menggoda dan menunggu. Malaikat Gabriel dan Yesus juga mengalami toll-houses.

The Fourty Days

            Ketika jiwa sudah berhasil melewati toll-houses. Manusia punya waktu 37 hari untuk mengunjungi habitat surga dan habitat neraka. Sedangkan  pada hari ke-40 dia akan menempati habitatnya yang permanen yaitu neraka atau surge. Pada hari ke 3-9, Tuhan menunjukkan mereka paradise dan pada hari ke 10-40, ditunjukkan kepada mereka penyiksaan yang menyeramkan di neraka.

Bagaimana keadaan jiwa ketika menghadapi final judgement?

Pada hari ke 41 sampai seterusnya, jiwa sudah bisa merasakan sukacita yang kekal di Firdaus (Paradise). Dan ketika di Hades, mereka sudah mulai merasakan siksaan yang kekal. Nanti yang akan diterima pada saat final judgement. Tidak ada lagi waktu untuk bertobat, ketika jiwa itu meninggalkan tubuh.

Ketika seseorang meninggal dunia, ia disebut the invisible Chruch. Berarti kalau kita berdoa untuk orang mati, sama ketika kita berdoa untuk sesame gereja. Supaya malaikat menjaga dan memeliharanya dalam perjalannya melewati toll-houses itu dan dia bisa masuk ke Firdaus. Setiap orang Kristen yang percaya akan bersama dengan Kristus di Firdaus (Filipi 1:21-23).  Hal itu terjadi ketika kita dibaptis sehingga kita bersatu dengan tubuh Kristus. Maka ketika Kristus di surge, maka kita duduk bersama dengan Dia di surge (Filipi 3:20-21).

What we can do for the dead?

Setiap orang pasti mengasihi orang mati dan ingin memberi pertolongan. Tapi kita tidak bisa berbuat/mengerjakan apa-apa buat orang mati supaya mereka bertobat. Kita hanya bisa berdoa buat mereka.

Tugas ke-6 Bahasa Ibrani 1

1. Kejadian 3:12

וַיֹּ֖אמֶר הָֽאָדָ֑ם הָֽאִשָּׁה֙ אֲשֶׁ֣ר נָתַ֣תָּה עִמָּדִ֔י הִ֛וא נָֽתְנָה־לִּ֥י מִן־הָעֵ֖ץ וָאֹכֵֽל׃

 (Gen. 3:12 WTT)

The man (  הָֽאָדָ֑ם) said (  אמר), “The woman (  הָֽאִשָּׁה֙ ) whom (  אֲשֶׁ֣ר) thou gavest (  נָתַ֣תָּה) to be with me (  עִמָּדִ֔י), she (  הִ֛וא) gave me (  נָֽתְנָה־לִּ֥י) fruit of the tree (  מִן־הָעֵ֖ץ), and I ate.” (  וָאֹכֵֽל׃) (Gen. 3:12 RSV).

Cara baca:

Vayomer ha’adam ha’ishah aser natatah imadi hiv natenah-li min-ha’es na’okel

Terjemahan Literal:

Dan Adam berkata: perempuan itu yang telah kamu berikan kepadaku, dia memberikannya kepadaku dari buah pohon itu, dan ku makan.

וַיֹּ֖אמֶר = וְ particle conjunction   אמר verb qal waw consec imperfect 3rd person masculine singular homonym 1

2. Kejadian 1:1

בְּרֵאשִׁ֖ית בָּרָ֣א אֱלֹהִ֑ים אֵ֥ת הַשָּׁמַ֖יִם וְאֵ֥ת הָאָֽרֶץ׃

 (Gen. 1:1 WTT)

Cara baca:

Bereshit bara Elohim et hasamayim ne’et ha’ares

In the beginning (  בְּרֵאשִׁ֖ית) God (  אֱלֹהִ֑ים) created (  בָּרָ֣א) the heavens (  הַשָּׁמַ֖יִם) and (  וְאֵ֥ת) the earth. (  הָאָֽרֶץ׃)(Gen. 1:1 RSV)

Terjemahan Literal:

Pada mulanya Allah menciptakan langit-langit dan bumi

3. Kejadian 21:1

  וַֽיהוָ֛ה פָּקַ֥ד אֶת־שָׂרָ֖ה כַּאֲשֶׁ֣ר אָמָ֑ר וַיַּ֧עַשׂ יְהוָ֛ה לְשָׂרָ֖ה כַּאֲשֶׁ֥ר דִּבֵּֽר׃

 (Gen. 21:1 WTT)

Cara baca:

Vahvah pakad et-sarah kaesar amar vaya’as yehovah lesarah kaesar diber

The LORD (  וַֽיהוָ֛ה) visited (  פָּקַ֥ד) Sarah (  אֶת־שָׂרָ֖ה) as (  כַּאֲשֶׁ֣ר) he had said (  אָמָ֑ר), and (וְ) the LORD (  יְהוָ֛ה) did (עשׂה) to Sarah (  לְשָׂרָ֖ה) as (  כַּאֲשֶׁ֥ר) he had promised. (  דִּבֵּֽר׃) (Gen. 21:1 RSV)

Terjemahan Literal:

Dan TUHAN telah mengunjungi Sarah, seperti yang telah Dia katakan. Dan TUHAN melakukannya kepada Sarah seperti yang telah dikatakan-Nya.

4. Yesaya 59:8

  דֶּ֤רֶךְ שָׁלוֹם֙ לֹ֣א יָדָ֔עוּ וְאֵ֥ין מִשְׁפָּ֖ט בְּמַעְגְּלוֹתָ֑ם נְתִיבֽוֹתֵיהֶם֙ עִקְּשׁ֣וּ לָהֶ֔ם כֹּ֚ל דֹּרֵ֣ךְ בָּ֔הּ לֹ֥א יָדַ֖ע שָׁלֽוֹם׃

 (Isa. 59:8 WTT)

Cara baca:

Darak shalom lo yadau ve’en mishepas bema’egelotam netibote’ham ikesho laham kol ddorek bbah lo yada shalom.

The way (  דֶּ֤רֶךְ) of peace (  שָׁלוֹם) they know (  יָדָ֔עוּ) not (  לֹ֣א), and (וְ) there is no (אַיִן) justice (  מִשְׁפָּ֖ט) in their paths (  נְתִיבֽוֹתֵיהֶם֙); they (  לָהֶ֔ם) have made their (  בָּ֔הּ) roads crooked (  עִקְּשׁ֣וּ), no (  לֹ֥א) one who goes in them knows (  יָדַ֖ע) peace. (  שָׁלֽוֹם׃) (Isa. 59:8 RSV)

Terjemahan Literal:

mereka tidak mengenal jalan damai, dan di dalam mereka tidak ada keadilan di jalan mereka; mereka mengambil jalan yang bengkok, dan tak seorangpun mereka mengetahui jalan damai.

5. Keluaran 31:16

  וְשָׁמְר֥וּ בְנֵֽי־יִשְׂרָאֵ֖ל אֶת־הַשַּׁבָּ֑ת לַעֲשׂ֧וֹת אֶת־הַשַּׁבָּ֛ת לְדֹרֹתָ֖ם בְּרִ֥ית עוֹלָֽם׃

 (Exod. 31:16 WTT)

Cara baca:

Nesamero beney’yisera’el et-hashabat la’asot et- hashabbat ledorotam beriyt olam

Therefore (וְ) the people of Israel (  בְנֵֽי־יִשְׂרָאֵ֖ל) shall keep (שׁמר) the Sabbath (  אֶת־הַשַּׁבָּ֑ת), observing  (  לַעֲשׂ֧וֹת) the sabbath throughout (  אֶת־הַשַּׁבָּ֛ת) their generations (  לְדֹרֹתָ֖ם), as a perpetual (  עוֹלָֽם׃) covenant. (  בְּרִ֥ית) (Exod. 31:16 RSV)

Terjemahan Literal

Sebab itu bangsa Israel akan memelihara sabbat itu, untuk melakukan sabbat itu, pada generasi mereka, seperti sebuah perjanjian kekal.

6. Kejadian 47:30

  וְשָֽׁכַבְתִּי֙ עִם־אֲבֹתַ֔י וּנְשָׂאתַ֙נִי֙ מִמִּצְרַ֔יִם וּקְבַרְתַּ֖נִי בִּקְבֻרָתָ֑ם וַיֹּאמַ֕ר אָנֹכִ֖י אֶֽעֱשֶׂ֥ה כִדְבָרֶֽךָ׃

 (Gen. 47:30 WTT)

Veshakabeti im-abota onesatani mimmi’erayim okebaretani bikeburatam vayomar anoki e’esheh kidebarak

But let me lie (וְשָֽׁכַבְתִּי֙) with my fathers (  עִם־אֲבֹתַ֔י); carry me (  וּנְשָׂאתַ֙נִי֙) out of Egypt (  ממִּצְרַ֔יִם) and bury me (  וּקְבַרְתַּ֖נִי) in their burying (  בִּקְבֻרָתָ֑ם) place.” He answered (  וַיֹּאמַ֕ר), “I (  אָנֹכִ֖י) will do (  אֶֽעֱשֶׂ֥ה) as you have said.” (  כִדְבָרֶֽךָ׃) (Gen. 47:30 RSV).

Terjemahan Literal

Dan aku mendapat perhentian bersama bapa-bapaku dan bawalah aku dari Mesir dan kuburkan aku dipekuburan merekan dan dia berkata: saya melakukan seperti yang kamu katakan.

Tugas ke-4 Bahasa Ibrani 1

  1. Kel 11:3

יִּתֵּ֧ן יְהוָ֛ה אֶת־חֵ֥ן הָעָ֖ם בְּעֵינֵ֣י מִצְרָ֑יִם גַּ֣ם׀ הָאִ֣ישׁ מֹשֶׁ֗ה גָּד֤וֹל מְאֹד֙ בְּאֶ֣רֶץ מִצְרַ֔יִם בְּעֵינֵ֥י עַבְדֵֽי־פַרְעֹ֖ה וּבְעֵינֵ֥י הָעָֽם׃ ס

And the LORD gave the people favor in the sight of the Egyptians. Moreover the man Moses was very great in the land of Egypt, in the sight of Pharaoh’s servants and in the sight of the people. (Exod. 11:3 NKJ)

  • Terjemahan Literal:

Lalu Tuhan Allah memberikan kemurahan hatinya kepada bangsa itu di mata orang-orang Mesir. Juga pria itu (Musa) adalah orang yang sangat besar di tanah Mesir. Dimata hamba-hamba Firaun dan juga dimata rakyat.

  • Particle conjuction

  וַיִּתֵּ֧ן   : (dan, lalu, membuat)   וַ ini adalah particle conjuction

  וּבְעֵינֵ֥י : (dan, lalu, membuat). וּ Ini adalah particle conjunction

  • Maqqef

  אֶת־חֵ֥ן : (dengan kemurahan) ־kata ini menggunakan tanda maqqef (tanda penghubung) menunjukkan kata itu mempunyai hubungan.

  עַבְדֵֽי־פַרְעֹ֖ה : (para pegawai) ־ kata ini menggunakan tanda Maqqef (tanda penghubung) menunjukkan kata itu mempunyai hubungan.

  • Kata sifat

  גָּד֤וֹל : (besar/terkenal). Kata ini menjelaskan tentang Musa.   גָּד֤וֹל Ini adalah kata sifar predicative karena kata bendanya menggunakan definite Article yaitu   הָאִ֣ישׁ

  • Particle Article

  הָעָ֖ם : (The people : orang itu). הָ kata ini adalah definite article

  הָאִ֣ישׁ : (The man : Manusia itu). הָ kata ini adalah definite article

  הָעָֽם׃ : (The people : Orang itu) הָ kata ini adalah definite article

  • Preposition

  בְּעֵינֵ֣י : (in a spring : di mata).   בְּIni adalah preposition (kata depan) yaitu in (di).

  בְּאֶ֣רֶץ : (in earth : di tanah).  בְּIni adalah preposition (kata depan) yaitu in (di). 

  וּבְעֵינֵ֥י : (and in a spring : dan di mata).   בְּIni adalah preposition (kata depan) yaitu in (di)

  • 1 Sam 12:16

גַּם־עַתָּה֙ הִתְיַצְּב֣וּ וּרְא֔וּ אֶת־הַדָּבָ֥ר הַגָּד֖וֹל הַזֶּ֑ה אֲשֶׁ֣ר יְהוָ֔ה עֹשֶׂ֖ה לְעֵינֵיכֶֽם

“Now therefore, stand and see this great thing which the LORD will do before your eyes: (1 Sam. 12:16 NKJ)

Terjemahan literal:

Sekarang juga  berdirilah dan lihatlah hal  besar ini yang akan Tuhan Allah lakukan di depan matamu

  • Particle conjunction

  גַּם : (Dan). Ini adalah kata Particle Konjuction

  וּרְא֔וּ : (and to see : dan lihatlah). וּ Kata ini adalah partice konjuction

  • Maqqef

  גַּם־עַתָּה : (and-ow : dan-sekarang). ־ Ini adalah maggef atau tanda penghubung antara dan –sekarang menunjukkan kata ini mempunyai hubungan

  אֶת־הַדָּבָ֥ר (with –the word: dengan dilakukan). ־ Ini adalah maqqef atau tanda penghubung antara dengan –dilakukan menunjukkan kata ini mempunyai hubungan

  • Kata sifat

  הַגָּד֖וֹל (great : besar). Ini adalah kata sifat predikative karena baik di kata sifat maupun di  kata benda sama-sama menggunakan defnite article yaitu הַזֶּ֑ה

  • Particle artikel

  אֶת־הַדָּבָ֥ר  : (with-the word: dengan di lakukan). הַ ini adalah definite artikel

  הַגָּד֖וֹל : (The great: besar itu). הַ ini adalah definite article

  הַזֶּ֑ה : (the this:ini).    הַini adalah definite article

  • Interrogative pronoun

  אֲשֶׁ֣ר : (Who :siapa). אֲשֶׁ֣ר ini adalah kata ganti dari pertanyaan yaitu siapa

  • preposition

  לְעֵינֵיכֶֽם׃ : (to a sprind : matamu).  לְ ini adalah preposition

  • Ulangan 1:19

וַנִּסַּ֣ע מֵחֹרֵ֗ב וַנֵּ֡לֶךְ אֵ֣ת כָּל־הַמִּדְבָּ֣ר הַגָּדוֹל֩ וְהַנּוֹרָ֙א הַה֜וּא אֲשֶׁ֣ר רְאִיתֶ֗ם דֶּ֚רֶךְ הַ֣ר הָֽאֱמֹרִ֔י כַּאֲשֶׁ֥ר צִוָּ֛ה יְהוָ֥ה אֱלֹהֵ֖ינוּ אֹתָ֑נוּ וַנָּבֹ֕א עַ֖ד קָדֵ֥שׁ בַּרְנֵֽעַ׃

 “So we departed from Horeb, and went through all that great and terrible wilderness which you saw on the way to the mountains of the Amorites, as the LORD our God had commanded us. Then we came to Kadesh Barnea. (Deut. 1:19 NKJ)

  • Terjemahan Literal:

Dan kami berangkat dari Horeb dan berjalan melewati semua padang gurun yang luas dan juga menakutkan yang kamu lihat dijalan gunung dari orang-orang Amori seperti yang diperintahkan Tuhan Allah kita kepada kita dan kami sampai di Kadesh-Barnea.  

  • Particle Konjuction

  וַנִּסַּ֣ע : (and to pull :dan berangkat).  Kata dan וַ   disini adalah Particle Konjuction

  וַנֵּ֡לֶךְ : (and to walk : dan berangkat). Kata dan וַ disini adalah particle conjuction

  וְהַנּוֹרָ֙א : (and to feared :dan juga menakutkan). Kata dan וַ disini adalah particle conjuction

  וַנָּבֹ֕א : ( and to come: dan datang). Kata dan וַ disini adalah particle conjuction

  • Particle preposition

  מֵחֹרֵ֗ב : (from Horeb : dari Horeb). Kata מֵ disini adalah Particle preposition

  כַּאֲשֶׁ֥ר : (like who: siapa suka). Kata כּ adalah Particle preposition

  • Maqqef

  כָּל־הַמִּדְבָּ֣ר : (all the wilderness: melalui padang belantara). ־ Ini adalah Maqqef atau tanda penghubung yang menunjukkan kata tersebut mempunyai hubungan

  • Kata sifat

  הַגָּדוֹל : (great :besar). Ini adalah kata sifatatributive karena kata bendanya dan kata sifatnya diikuti oleh definite article. Kata sifatnya ini menjelaskan padang gurun yang besar.

  • Particle Article

  הַמִּדְבָּ֣ר : (wilderness : padang belantara). הַ Ini adalah definite article

  הַגָּדוֹל : (great : besar). הַ Ini adalah definite article

  וְהַנּוֹרָ֙א : (and the to fear : dan menakutkan). הַ Ini adalah definite article

  הַה֜וּא : (the he :dia). הַ Ini adalah definite article

  הָֽאֱמֹרִ֔י  : (Amorites :Amori). הַ Ini adalah definite article

  • Pronoun

  הַה֜וּא : (he : dia). Ini adalah kata sifat

  • Kej 27:18

  וַיָּבֹ֥א אֶל־אָבִ֖יו וַיֹּ֣אמֶר אָבִ֑י וַיֹּ֣אמֶר הִנֶּ֔נִּי מִ֥י אַתָּ֖ה בְּנִֽי׃

So he went to his father and said, “My father.” And he said, “Here I am. Who are you, my son?”  (Gen. 27:18 NKJ)

  • terjemahan Literal:

Dan dia datang kepada bapaknya, dan dia berkata “bapaku.” Dan dia berkata, “ ini aku. Siapa kamu, anakku?”

  • Particle Conjuction

  וַיָּבֹ֥א : (and to come : dan dia datang).  וַ   ini adalah particle conjuction.

  וַיֹּ֣אמֶר : (and to say : dan berkata). וַ   ini adalah particle conjuction

  • Preposition

  אֶל־אָבִ֖יו : (to father : kepada-bapanya). אֶל Ini adalah preposition

  • Maqqef

  אֶל־אָבִ֖יו : (to father: kepada bapanya). ־ Ini adalah kata maqqef (kata penghubung antara kepada-bapanya. Ini menunjukkan kata ini mempunyai hubungan

  • Interrogative pronoun

  מִ֥י : (who ;siapa). ini adalah kata ganti dari pertanyaan yaitu siapa

  • 2 Raja-raja 4: 2

וַיֹּ֙אמֶר אֵלֶ֤יהָ אֱלִישָׁע֙ מָ֣ה אֶֽעֱשֶׂה־לָּ֔ךְ הַגִּ֣ידִי לִ֔י מַה־יֶּשׁ־(לְכִי) [לָ֖ךְ] בַּבָּ֑יִת וַתֹּ֗אמֶר אֵ֣ין לְשִׁפְחָתְךָ֥ כֹל֙ בַּבַּ֔יִת כִּ֖י אִם־אָס֥וּךְ שָֽׁמֶן׃

  • Terjemahan literal:

And Elisha said to her, “What shall I do for you? Tell me; what have you in the house?” And she said, “Your maidservant has nothing in the house, except a jar of oil.”

Dan Elisa berkata kepadanya, “Apa yang akan aku lakukan untukmu? Ceritakanlah, apa yang ada padamu dirumah? Dan dia berkata, “hambamu perempuanmu itu tidak memiliki apa pun di seluruh rumah kecuali sebuah buli minyak.”

  • Particle conjuction

  וַיֹּ֙אמֶר   : (and to say :dan berkata). וַ Ini adalah Particlek conjunction

  • Preposition

  אֵלֶ֤ : (To : untuk, juga). Ini adalah kata preposition

  לָּ֔ : (To : Untuk, juga)

  • Interrogative Pronoun

  מָ֣ה : (what : apa)

  מַה : (that :apa)

  • Maqqef

  אֶֽעֱשֶׂה־לָּ֔ךְ : (to do : untuk), ־ Ini adalah maqqef (kata penghubung) yang menunjukkan kata tersebut mempunyai hubungan.

  אִם־אָס֥וּךְ : (if a flask : jika-sebuah botol). ־ Ini adalah maqqef (kata penghubung) yang menunjukkan kata tersebut mempunyai hubungan.

Tugas Ibrani 1; tugas ke-5

  1. 2 Samuel 5:10

So David went on and became great, and the LORD God of hosts was with him.

 (2 Sam. 5:10 NKJ)

  וַיֵּ֥לֶךְ דָּוִ֖ד הָל֣וֹךְ וְגָד֑וֹל וַיהוָ֛ה אֱלֹהֵ֥י צְבָא֖וֹת עִמּֽוֹ׃ פ

Terjemahan Literal:

Dan semakin lama Daud semakin besar/bertumbuh  sebab Allah bersama dia

  עִמּֽוֹ׃ : article preposition suffix 3rd person masculine singular. Jadi ini adalah kata ganti orang ketiga yaitu sufik  holem waw (וֹ)  massculin singular yaitu with him (bersama dia).


2. Yes 45:22

“Look to Me, and be saved, All you ends of the earth! For I am God, and there is no other. (Isa. 45:22 NKJ)

  פְּנוּ־אֵלַ֥י וְהִוָּשְׁע֖וּ כָּל־אַפְסֵי־אָ֑רֶץ כִּ֥י אֲנִי־אֵ֖ל וְאֵ֥ין עֽוֹד׃

Terjemahan literal:

Berpalinglah kepada-Ku dan untuk keselamatan semua yang beristirahat di bumi. Sebab Aku Allah dan tidak ada yang lain

    אֵלַ֥י : particle preposition suffix 1st person common singular. Jadi ini adalah kata ganti orang pertama yaitu sufix hireg yod  (י) yaitu to Me

3. Imamat 5:15

NKJ  Leviticus 5:15 “If a person commits a trespass, and sins unintentionally in regard to the holy things of the LORD, then he shall bring to the LORD as his trespass offering a ram without blemish from the flocks, with your valuation in shekels of silver according to the shekel of the sanctuary, as a trespass offering.

  1. 1.       (Lev. 5:15 NKJ)   WTT Leviticus 5:15 נֶ֚פֶשׁ כִּֽי־תִמְעֹ֣ל מַ֔עַל וְחָֽטְאָה֙ בִּשְׁגָגָ֔ה מִקָּדְשֵׁ֖י יְהוָ֑ה וְהֵבִיא֩ אֶת־אֲשָׁמ֙וֹ לַֽיהוָ֜ה אַ֧יִל תָּמִ֣ים מִן־הַצֹּ֗אן בְּעֶרְכְּךָ֛ כֶּֽסֶף־שְׁקָלִ֥ים בְּשֶֽׁקֶל־הַקֹּ֖דֶשׁ לְאָשָֽׁם׃

Terjemahan literal:

Apabila seseorang tidak setia dan berbuat dosa dengan tidak sengaja/ keliru kepada Tuhan dari hal-hal yang suci. Dia akan membawa kesalahannya kepada Tuhan, seekor dari domba yang sempurna nilainya berdasarkan syikal perak . untuk pengudusan satu kesalahan.

 אֲשָׁמ֙וֹ : noun common masculine singular construct suffix 3rd person masculine singular.

Jadi di dalam ayat ini terdapat suffix masculine singular = With Him guilt.

   בְּעֶרְכְּךָ : noun common masculine singular construct suffix 2nd person masculine singular.

Jadi di dalam ayat ini terdapat suffix feminime singular = In You.

4. Mazmur 8:2

To the Chief Musician. On the instrument of Gath. A Psalm of David.> O LORD, our Lord, How excellent is Your name in all the earth, Who have set Your glory above the heavens!

  יְהוָ֤ה אֲדֹנֵ֗ינוּ מָֽה־אַדִּ֣יר שִׁ֭מְךָ בְּכָל־הָאָ֑רֶץ אֲשֶׁ֥ר תְּנָ֥ה ה֜וֹדְךָ֗ עַל־הַשָּׁמָֽיִם׃

Terjemahan literal:

Tuhan Allah kami betapa mulianya nama-Mu  diseluruh bumi, yang mengatasi keagungan-Mu diatas langit-langit.

  אֲדֹנֵ֗ינוּ : noun common masculine plural construct suffix 1st person common plural. Ini adalah kata ganti orang pertama plural yaitu sufix shureg (וּ) yaitu our Lord (Tuhan kami).

  שִׁ֭מְךָ : noun common masculine singular construct suffix 2nd person masculine singular homonym 1. Ini adalah  kata ganti orang orang kedua tunggal  yaitu suffix second mascsculin singuler yaitu Your name (nama-Mu)

  ה֜וֹדְךָ֗ : noun common masculine singular construct suffix 2nd person masculine singular homonym 1. Ini adalah kata ganti orang kedua tungga yaitu suffix second massculin singuler yaitu Your glori (kemuliaan-Mu)

5. Kej 27:32

And his father Isaac said to him, “Who are you?” So he said, “I am your son, your firstborn, Esau.” (Gen. 27:32 NKJ)

  וַיֹּ֥אמֶר ל֛וֹ יִצְחָ֥ק אָבִ֖יו מִי־אָ֑תָּה וַיֹּ֕אמֶר אֲנִ֛י בִּנְךָ֥ בְכֹֽרְךָ֖ עֵשָֽׂו׃

Terjemahan literal:

Dan berkata kepadanya Ishak  Ayahnya, “siapa kamu?” dan dia menjawab, “aku anakmu, kelahiran pertama/anak sulung  Esau.”

  ל֛וֹ : particle preposition suffix 3rd person masculine singular. Ini adalah kata ganti orang ketiga yaitu sufix holem waw (וֹ) maskulin singular yaitu to him

  אָבִ֖יו : noun common masculine singular construct suffix 3rd person masculine singular. Ini adalah kata ganti orang  orang ketiga tunggal yaitu suffix waw massculin singular yaitu his father  (bapaknya)

  בִּנְךָ֥ : noun common masculine singular construct suffix 2nd person masculine singular homonym 1. Ini adalah kata ganti orang kedua yaitu suffix final form massculin singular  yaitu your son

  בְכֹֽרְךָ֖ : noun common masculine singular construct suffix 2nd person masculine singular. Ini adalah kata ganti orang kedua  yaitu suffix final form massculin singular yaitu your firstborn (kelahiran pertama)

Eksegesis PB Dari Hosea 1:1-2

22 Oktober 2019

דְּבַר־יְהוָ֣ה׀ אֲשֶׁ֣ר הָיָ֗ה אֶל־הוֹשֵׁ֙עַ֙ בֶּן־בְּאֵרִ֔י בִּימֵ֙י עֻזִּיָּ֥ה יוֹתָ֛ם אָחָ֥ז יְחִזְקִיָּ֖ה מַלְכֵ֣י יְהוּדָ֑ה וּבִימֵ֛י יָרָבְעָ֥ם בֶּן־יוֹאָ֖שׁ מֶ֥לֶךְ יִשְׂרָאֵֽל׃

 2 תְּחִלַּ֥ת דִּבֶּר־יְהוָ֖ה בְּהוֹשֵׁ֑עַ פ וַיֹּ֙אמֶר יְהוָ֜ה אֶל־הוֹשֵׁ֗עַ לֵ֣ךְ קַח־לְךָ֞ אֵ֤שֶׁת זְנוּנִים֙ וְיַלְדֵ֣י זְנוּנִ֔ים כִּֽי־זָנֹ֤ה תִזְנֶה֙ הָאָ֔רֶץ מֵֽאַחֲרֵ֖י יְהוָֽה׃

 Sintatic point:

  1. The word of the LORD that came to Hosea the son of Beeri, in the days of Uzziah, Jotham, Ahaz, and Hezekiah, kings of Judah, and in the days of Jeroboam the son of Joash, king of Israel.
  2. The Lord said to Hosea:
    1. Go take to yourself a wife of harlotry
    1. Have children of harlotry
    1. for the land commits great harlotry by forsaking the LORD

Semantic content:

            Saat itu banyak agama-agama di luar Allah/penyembah-penyembah berhala. Apa yang terjadi pada Hosea merupakan satu tipology apa yang terjadi pada Kristus. Di Perjanjian Lama dosa itu disebut perzinahan jasmani tapi di dalam Perjanjian Baru, dosa itu disebut perjinahan Rohani. Perjinahan rohani disebut sebagai orang-orang yang memang tidak setia kepada suami mereka atau pasangan mereka. Berarti hubungan Israel dengan Allah adalah seperti hubungan  Kristus dengan gereja. Kristus adalah mempelai laki-laki dan gereja adalah mempelai perempuannya. Jadi, kita diajak untuk setia kepada Allah yaitu kepada Kristus. Pernikahan Hosea ini merupakan satu perumpamaan bagaimana kesetiaan Allah sedangkan umat-Nya itu tidak setia.  Gomer itu menggambarkan bahwa  kita tidak setia di dalam hati tapi Tuhan tetap setia. Kita diangkat sebagai anak-anak Allah. Perjinahan itu dimulai dari dalam hati. Setia kepada mempelai Kristus berarti  kita diajar untuk saling mengasihi (Roma 13:8-10). Menjaga status sebagai mempelai perempuan dan menjaga supaya hatinya tetap suci.  Kita mesti menyucikan hati supaya kita tetap menjadi mempelai yang kudus (Efesus 1:4). Ketika kita tidak setia tapi Kristus tetap setia. Kita akan dikuduskan oleh Kristus yang setia sehingga kita menjadi layak dihadapan-Nya (1 Korintus 7:14). Tapi bukan berarti kita tetap tidak setia (Roma 6:1-2; Roma 3:7). Jagalah hati, karena di dalam hati, mengalir air kehidupan (Amsal 4:23). Berarti Amsal 4:23 digenapi di dalam Matius 6:22-23. Nous kita harus diperbaharui  oleh anugerah Allah (Efesus 4:22-23) supaya nous kita diterangi oleh anugerah itu. orang yang sudah diperbaharui itu tidak lagi melakukan dosa. Dan tubuh yang terang itu adalah tubuh yang menyerahkan anggota-anggota tubuhnya menjadi senjata-senjata kebenaran (Roma 6:13; Roma 8:6).

Personal:

Kita perlu menjaga hati jangan seperti gomer/bangsa Israel. Sebab kita adalah mempelai Kristus yang menjaga kita dari dosa.

Obedience:

Mengusir pikiran jahat dari dalam hati (Matius 7:21-23). Menjaga nous (Matius 6:22-23.

Roma 8:5

Manusia yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal yang dari daging (Roma 8:5) dan manusia yang hidup menurut Roh memikirkan hal-hal yang dari Roh. Kata “φρονοῦσιν” bukan hanya sekedar kerja otak tapi itu adalah kerja nous. Matius 15:18 mengatakan bahwa kata-kata yang keluar dari mulut berasal dari dalam hati. Berarti dari dalam jiwa ini yang mengakibatkan perbuatan-perbuatan jahat itu muncul. Sebab keinginan daging itu bertentangan dengan keinginan Roh (Galatia 5:17). Daging adalah kerja jiwa dan daging adalah hal-hal yang bertentangan dengan Roh (Filipi 4:8). Ketika kita memiliki froneo sarkos maka akan muncul logismoi jahat yang akan menjadi epitumia dan menimbulkan κακοὶ (Mk. 7:21 BYZ). Perbuatan itu adalah hasil dari proses berpikir. Di dalam 1 Korintus 2:16, mengatakan bahwa kita seharusnya memiliki nous Kristus.  Kita memiliki pakaian Kristus ketika kita dibaptis (Galatia 3:27) kita put on Christ. Artinya pada saat kita dibaptis selain memakai pakaian Kristus juga kita menjadi manusia baru di dalam Kristus.  Tapi kita mengenakan Kristus itu belum sempurna (Kolose 3:10). Tapi kita akan menuju gambar yang sempurna yang terus menerus diperbaharui.

Karena kita terus-menerus diperbaharui, maka langkah berikutnya adalah memiliki nous Kristus (1 Korintus 2:16; Filipi 2:5). Nous ini harus memikirkan hal-hal yang dari Roh (Roma 8:5). Ketika kita memiliki pikiran Kristus maka kita memiliki fronema pneumatos dan memiliki δοκιμάζειν (Rom. 12:2 BYZ). Nous kita bisa membedakan kehendak Allah dan yang bukan kehendak Allah. Orang yang tidak memiliki nous adalah orang yang seperti kanak-kanak (1 Korintus 13:11) yang memikirkan hal-hal daging (1 Korintus 3:1). Epitumia ada 2 yaitu daging dan Roh. Kita bisa memiliki epitumia Roh ketika kita berjalan menurut Roh (Galatia 5:16). Dan juga ketika keinginan itu dibuahi maka ia akan melahirkan epitumia sarkos yaitu dosa (Yakobus 1:15).

Terjemahan Anthony Confroting And Controlling

Nama             : Mercy Kristini Hia

Semester      : V

M.K.                : Etika Kristen

Tugas            : Ke-8


THE INTELLECT IS A GIFT THAT SAVES THE SOUL

St. Anthony differentiates between the soul and the intellect (nous) which he says are not the same,

The intellect is not the soul, but a gift of God that saves the soul; and the intellect that conforms to God goes on ahead of the soul and counsels it to despise what is transitory, material and corruptible, and to turn all its desire towards eternal, incorruptible and immaterial blessings. And the intellect teaches man while still in the body to perceive and contemplate divine and heavenly realities, and everything else as well, through itself. Thus, the intellect that enjoys the love of God is the benefactor and saviour of the human soul.

NOUS/INTELEK ADALAH PEMBERIAN YANG MENYELAMATKAN JIWA

 St Anthony membedakan antara jiwa dan kecerdasan (nous) yang katanya tidak sama,

 Intelek bukanlah jiwa, tetapi anugerah Tuhan yang menyelamatkan jiwa; dan intelek yang berasal dari Allah terus mendahului jiwa dan menasihatinya untuk membenci apa yang fana, material, dan dapat dirusak, dan untuk mengubah semua keinginannya menuju berkah yang kekal, tidak fana dan tidak material. Dan intelek mengajar manusia ketika masih dalam tubuh untuk memahami dan merenungkan realitas ilahi dan surgawi, dan segala sesuatu yang lain, melalui dirinya sendiri. Dengan demikian, Nous/intelek yang menikmati kasih Tuhan adalah dermawan dan penyelamat jiwa manusia.

THE PURIFIED INTELLECT IS THE SPIRITUAL EYE

St. Gregory of Sinai calls the intellect (nous) a spiritual eye as does Jesus in Matt. 6:22-23,

The physical eye perceives the outward or literal sense of things and from it derives sensory images.  The intellect, once purified and re-established in its pristine state, perceives God and from Him derives divine images. Instead of a book the intellect has the Spirit; instead of a pen, (it has) mind and tongue—“my tongue is a pen”, says the Psalmist (cf. Ps. 45:1); and instead of ink, (it has) light. So plunging the mind into the light that it becomes light, the intellect, guided by the Spirit, inscribes the inner meaning of things in the pure hearts of those who listen. Then it grasps the significance of the statement that the faithful “shall be taught by God” (cf. Isa. 54:13; John 6:45), and that through the Spirit God “teaches man knowledge” (Ps. 94:10).

“The intellect,” says St. Gregory, “once purified…perceives God and from Him receives divine images” (thoughts).

INTELLEKT YANG DIMURNIKAN ADALAH MATA SPIRITUAL

St Gregorius dari Sinai menyebut intelek (nous) mata spiritual seperti halnya Yesus dalam Mat. 6: 22-23,

Mata fisik merasakan arti hal-hal lahiriah atau literal dan darinya diperoleh gambar-gambar indera. Intelek, yang pernah dimurnikan dan ditegakkan kembali dalam kondisi aslinya, memandang Tuhan dan darinya memperoleh citra-citra ilahi. Alih-alih sebuah buku, intelek memiliki Roh; alih-alih sebuah pena, (ia memiliki) pikiran dan lidah— “lidahku adalah sebuah pena”, kata Pemazmur (lih. Maz 45: 1); dan bukannya tinta, (memiliki) cahaya. Begitu menceburkan pikiran ke dalam cahaya sehingga menjadi terang, kecerdasan, dibimbing oleh Roh, menuliskan makna batin dari hal-hal di dalam hati yang murni dari mereka yang mendengarkan. Kemudian ia menangkap pentingnya pernyataan bahwa orang beriman “akan diajar oleh Allah” (lih. Yes 54:13; Yoh 6:45), dan bahwa melalui Roh Allah “mengajarkan pengetahuan manusia” (Mzm. 94:10 ).

“Intelek,” kata St. Gregorius, “begitu disucikan … mempersepsikan Tuhan dan dari-Nya menerima gambar-gambar ilahi” (pikiran).

MORE COMMENTS BY CHURCH FATHERS ON THE INTELLECT

Following are more comments by various other Fathers of the Philokalia as they describe the intellect or nous.  St. Maximus, the Confessor describes the intellect as that which has the power to choose:

Our intellect lies between angel and demon, each of which works for its own ends, the one encouraging virtue and the other vice.  The intellect has both the authority and the power to follow or resist whichever it wishes to.

St. Maximus also calls the intellect “…the organ of wisdom and spiritual knowledge.”

Nikitas Stithatos describes further how the intellect functions as an organ of wisdom:

If your intellect clearly distinguishes the intentions of its thoughts and in its purity gives its assent only to those that are divine…then through the light of the Sun of righteousness you have transcended all sense-perception and have attained what lies beyond it, and you savour the delight of things unseen.

St. Thalassios, another one of the Philokalia Fathers, teaches that the intellect (nous) can subdue the passions,

A wise intellect (nous) restrains the soul, keeps the body in subjection, and makes the passions its servants.

We should look on man with wonder, conscious that his intellect (nous)…is the image of God.

St. Basil extols the intellect (nous) as a treasure-house,

The mind like a treasure-house tirelessly stores all thoughts.  And these thoughts, whether new or long held in store, the intellect when it wishes can express in language; yet although words are always coming from it, it is never exhausted.

The intellect (nous) is constantly working, producing thoughts.  It can store an endless number of memories.

The intellect (nous) is constantly working, producing thoughts.  It can store an endless number of memories.

 St. Thalassios tells us that the task of the nous resembles that of a gardener weeding his garden,  

The intellect’s task is to reject any thought that secretly vilifies a fellow being.  Just as the gardener who does not weed his garden chokes his vegetables, so the intellect that does not purify its thoughts is wasting its efforts.


KOMENTAR DARI BAPA-BAPA GEREJA TENTANG INTELEK

Berikut ini adalah banyak komentar dari berbagai Bapa Philokalia lainnya ketika mereka menggambarkan kecerdasan atau nous. Maximus, sang Pengaku menggambarkan kecerdasan sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan untuk memilih:

Intelek kita terletak di antara malaikat dan iblis, yang masing-masing bekerja untuk tujuannya sendiri, satu kebajikan yang membesarkan hati dan sifat buruk lainnya. Intelek memiliki otoritas dan kekuatan untuk mengikuti atau menolak yang diinginkannya.

Maximus juga menyebut intelek “… organ kebijaksanaan dan pengetahuan spiritual.”

Nikitas Stithatos menjelaskan lebih lanjut bagaimana kecerdasan berfungsi sebagai organ kebijaksanaan:

Jika nous kita dengan jelas membedakan keinginan dari pikiran-pikirannya dan dalam kemurnian mereka itu hanya dalam kebenaran ilahi … maka melalui cahaya Matahari kebenaran kita telah melampaui semua persepsi indera dan telah mencapai apa yang ada di luarnya, dan kita nikmati kesenangan hal-hal yang tak terlihat.

St Thalassios, salah satu dari para Bapa Philokalia, mengajarkan bahwa kecerdasan (nous) dapat menundukkan nafsu,

Intelek yang bijak (nous) menahan jiwa, menjaga tubuh agar tunduk, dan menjadikan hawa nafsu sebagai pelayannya.

Intelek yang “bijaksana”, tentu saja, dikendalikan oleh Tuhan dan dipenuhi dengan Roh Allah. Santo Petrus dari Damaskos mengaitkan kecerdasan (nous) dengan gambar Allah di dalam kita,

Kita harus memandang manusia dengan rasa kagum, sadar bahwa kecerdasannya (nous) … adalah gambar Allah.

St Basil memuji kecerdasan (nous) sebagai rumah harta,

Pikiran seperti rumah harta tanpa lelah menyimpan semua pikiran. Dan pikiran-pikiran ini, apakah baru atau lama tetap saja disimpan di toko,  intelek ketika mengharapkan sesuatu dapat diekspresikan dalam bahasa; namun meskipun kata-kata selalu berasal dari itu, itu tidak pernah habis.

Intelek (nous) terus bekerja, menghasilkan pikiran. Itu dapat menyimpan banyak kenangan.

St Thalassios memberi tahu kita bahwa tugas nous menyerupai tugas seorang tukang kebun menyiangi kebunnya,

Tugas intelek adalah menolak pemikiran apa pun yang diam-diam menjelekkan seseorang. Sama seperti tukang kebun yang tidak menyiangi kebunnya mencekik sayur-sayurannya, demikian juga kecerdasan yang tidak memurnikan pikirannya menyia-nyiakan usahanya.

Thus the intellect needs constant attention, weeding out evil thoughts and concentrating on that which is holy, noble and Godly. St. Maximus the Confessor describes the intellect as that which helps us “discriminate,”

The intellect has the power to discriminate between the spiritual and the sensible, between the eternal and the transitory. Or rather, as the soul’s discriminatory power, the intellect persuades the soul to cleave to the first (the spiritual) and to transcend the second (the transitory). 

St. Maximus the Confessor describes how the body is ruled by two laws, that of the flesh and that of the Spirit through the intellect (nous),

Jadi, intelek membutuhkan perhatian terus-menerus, menyingkirkan pikiran jahat dan berkonsentrasi pada apa yang suci, mulia, dan saleh. Maximus Sang Pengaku menggambarkan kecerdasan sebagai hal yang membantu kita "melakukan diskriminasi,"
Intelek memiliki kekuatan untuk membedakan antara yang spiritual dan yang masuk akal, antara yang abadi dan yang sementara. Atau lebih tepatnya, sebagai kekuatan jiwa yang diskriminatif, intelek membujuk jiwa untuk bersatu dengan yang pertama (spiritual) dan untuk melampaui yang kedua (yang sementara).
Maximus sang Pengaku menjelaskan bagaimana tubuh dikuasai oleh dua hukum, yaitu daging dan Roh melalui intelek (nous),

Since man is composed of body and soul, he is moved by two laws, that of the flesh and that of the Spirit (cf. Rom. 7:23). The law of the flesh operates by virtue of the senses; the law of the Spirit operates by virtue of the intellect.  The first law, operating by virtue of the senses, automatically binds one closely to matter; the second law, operating by virtue of the intellect, brings about direct union with God.  Suppose there is someone who does not doubt in his heart (cf. Mark 11:23) – that is to say, who does not dispute in his intellect — and through such doubt sever that immediate union with God which has been brought about by faith, but who is dispassionate or, rather, has already become god through union with God by faith: then it is quite natural that if such a person says to a mountain, “Go to another place”, it will go (cf. Matt. 17:220).  The mountain here indicates the will and the law of the flesh, which is ponderous and hard to shift, and in fact, so far as our natural powers are concerned, is totally immovable and unshakeable.

Man, says St. Maximus is moved by two laws: first, the law of the flesh which drags him down to the animal level; secondly, by the law of the Spirit, which operates through the intellect and helps man ascend to God by grace.  It is the law of the Spirit operating through the nous, the intellect, that can move the immovable and unshakeable mountains of the passions and unite us to God, says Maximus.


Karena manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, ia digerakkan oleh dua hukum, yaitu dari daging dan hukum Roh (lih. Rom 7:23). Hukum kedagingan beroperasi berdasarkan indera; hukum Roh beroperasi berdasarkan kecerdasan/nous/intelek. Hukum pertama, yang bekerja berdasarkan indra, secara otomatis mengikat seseorang dengan materi; hukum kedua, yang beroperasi berdasarkan kecerdasan/nous/intelek, menghasilkan penyatuan langsung dengan Tuhan. Misalkan ada seseorang yang tidak ragu dalam hatinya (lih. Mar 11:23) – artinya, yang tidak berselisih dalam kecerdasannya – dan melalui keraguan seperti itu memutuskan bahwa penyatuan langsung dengan Allah yang telah dibawa oleh iman , tetapi siapa yang tidak memihak atau, lebih tepatnya, telah menjadi Tuhan melalui penyatuan dengan Allah dengan iman: maka wajar saja jika orang seperti itu berkata kepada gunung, “Pindahlah ke tempat lain”, maka ia akan pindah (lih. Mat. 17: 220). Gunung di sini menunjukkan kehendak dan hukum kedagingan, yang berat dan sulit untuk digeser, dan pada kenyataannya, sejauh menyangkut kekuatan alami kita, benar-benar tak tergoyahkan dan tak tergoyahkan.

Manusia, kata St Maximus digerakkan oleh dua hukum: pertama, hukum daging yang menyeretnya ke tingkat binatang; kedua, oleh hukum Roh, yang beroperasi melalui intelek dan membantu manusia naik ke Tuhan karena anugerah. Hukum Roh adalah hukum yang bekerja melalui nous, intelek, yang dapat memindahkan gunung-gunung nafsu yang tak tergoyahkan dan tak tergoyahkan dan menyatukan kita dengan Tuhan, kata Maximus.

St. Thalassios, echoing the words of Jesus, “Physician, heal thyself,” says of the intellect,

 

St. Thalassios, echoing the words of Jesus, “Physician, heal thyself,” says of the intellect,

The truly physician-like intellect is one that first heals itself and then heals others of the diseases of which it has been cured.

In other words, the nous removes first the log from its own eye in order to better see the speck in his brother’s eye. 

The intellect (nous) acquires knowledge of God and discernment by God’s grace not by nature.  St. Maximus explains,

St Thalassios, menggemakan kata-kata Yesus, "Tabib, sembuhkan dirimu," kata intelek,
Intelek yang benar-benar seperti dokter adalah yang pertama menyembuhkan dirinya sendiri dan kemudian menyembuhkan orang lain dari penyakit yang telah disembuhkan. 
Dengan kata lain, nous menghapus balok kayu terlebih dahulu dari matanya sendiri untuk lebih melihat bintik di mata saudaranya. Intelek (nous) memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dan kebijaksanaan oleh anugerah Tuhan bukan oleh alam. Maximus menjelaskan

A man whose intellect has been formed by the knowledge that comes by dint of the virtues through the divine Spirit is said to experience divine things; for he has acquired such knowledge not by nature, thanks simply to his existence, but by grace, thanks to his participation in it.  When a man has not received knowledge by grace, even though he calls a particular thing spiritual, he does not know its true character from experience.  For mere learning does not produce a state of spiritual knowledge.

seseorang yang kecerdasannya telah dibentuk oleh pengetahuan yang datang karena berkat kebajikan melalui Roh ilahi dikatakan mengalami hal-hal ilahi; karena ia telah memperoleh pengetahuan semacam itu bukan secara alami, hanya berkat keberadaannya, tetapi oleh rahmat, berkat partisipasinya di dalamnya. Ketika seseorang belum menerima pengetahuan karena anugerah, meskipun dia menyebut hal tertentu spiritual, dia tidak tahu karakter sebenarnya dari pengalaman. Karena pembelajaran belaka tidak menghasilkan pengetahuan spiritual.

Maximus goes on to explain that the intellect does not have the power to ascend to God unless God takes the initiative to elevate it:

A soul can never attain the knowledge of God unless God Himself in His condescension takes hold of it and raises it up to Himself.  For the human intellect lacks the power to ascend and to participate in divine illumination, unless God Himself draws it up—in so far as this is possible for the human intellect—and illumines it with rays of divine light.

Maximus selanjutnya menjelaskan bahwa intelek tidak memiliki kekuatan untuk naik ke Tuhan kecuali Tuhan mengambil inisiatif untuk mengangkatnya:
Jiwa tidak akan pernah bisa mencapai pengetahuan tentang Tuhan kecuali Tuhan sendiri yang merendahkannya mengambilnya dan mengangkatnya kepada diri-Nya sendiri. Karena kecerdasan manusia tidak memiliki kekuatan untuk naik dan berpartisipasi dalam iluminasi ilahi, kecuali jika Allah sendiri yang membuatnya — sejauh ini dimungkinkan bagi kecerdasan manusia — dan menerangi dengan sinar cahaya ilahi.

And to show how God works in synergy with man, Maximus explains that even the Holy Spirit cannot impart wisdom to man unless the intellect is ready to receive it, 

Not even the grace of the Holy Spirit can actualize wisdom in the saints unless there is an intellect capable of receiving it; or spiritual knowledge unless there is a faculty of intelligence that can receive it; or faith unless there is in the intellect and the intelligence, full assurance about the realities to be disclosed hereafter and until then hidden from everyone… a man cannot acquire a single one of these gifts with his natural faculties unless aided by the divine power that bestows them. 


Dan untuk menunjukkan bagaimana Allah bekerja secara sinergi dengan manusia, Maximus menjelaskan bahwa bahkan Roh Kudus tidak dapat memberikan hikmat kepada manusia kecuali jika intelek/nous siap menerimanya,   Bahkan anugrah Roh Kudus tidak dapat mengaktualisasikan kebijaksanaan dalam diri orang-orang kudus kecuali jika ada kecerdasan yang dapat menerimanya; atau pengetahuan spiritual kecuali ada fakultas kecerdasan yang dapat menerimanya; atau iman kecuali ada dalam kecerdasan dan kecerdasan, kepastian penuh tentang kenyataan yang akan diungkapkan selanjutnya dan sampai saat itu disembunyikan dari semua orang … seorang pria tidak dapat memperoleh satu pun dari karunia ini dengan kemampuan alaminya kecuali jika dibantu oleh kekuatan ilahi yang melimpahkan mereka.

When faith opens the door to God, says Maximus, it is the intellect (nous) that serves as the chalice that receives the gifts of God’s wisdom, power and love.  Nikitas Stithatos extols the intellect as the organ that moves us toward God and immortality,

The glory of the intellect is its power of ascent, its constant movement upwards, its acuity, purity, understanding, wisdom and immortality. The dignity of the intellect lies in its intelligence, its royal sovereign nature, and its power of self-determination…. The intellect’s being in the likeness of God resides in its justice, truthfulness, love, sympathy and compassion. When these qualities are energized and guarded in a person, that which is in the image and likeness of God is clearly manifest in him. 

Ketika iman membuka pintu bagi Tuhan, kata Maximus, intelek (nous) yang berfungsi sebagai piala, menerima karunia kebijaksanaan, kekuatan, dan cinta Tuhan. Nikitas Stithatos memuji nous sebagai organ yang menggerakkan kita menuju Tuhan dan keabadian,
Kemuliaan kecerdasan adalah kekuatan pendakiannya, gerakannya yang konstan ke atas, ketajamannya, kemurniannya, pemahamannya, kebijaksanaannya dan keabadiannya. Martabat intelek terletak pada kecerdasannya, kedaulatan kerajaannya, dan kekuatan penentuan nasib sendiri .... Keberadaan intelek dalam rupa Allah berada dalam keadilan, kebenaran, cinta, simpati, dan kasih sayang. Ketika sifat-sifat ini diberi energi dan dijaga dalam diri seseorang, apa yang ada dalam gambar dan rupa Allah jelas dinyatakan dalam dirinya.
 

THE INTELLECT IN SUMMARY

In summary, here is what the Fathers of the Philokalia teach about the intellect (nous),

1. The intellect (nous) is the spiritual vision of God we possess through baptism though this vision is undiscovered by some. We must remember that when we are baptized, we are clothed with Christ. We put on “the mind of Christ”.

1.  intelek (nous) adalah visi spiritual dari Allah supaya kita menjadi serupa melalui baptisan. Kita harus mengingat itu ketika kita dibaptis, kita diberi pakaian dengan pakaian Kristus. Dan saat itu kita mulai menaruh “Pikiran Kristus” di dalam diri kita.

2. The intellect implies a direct, intuitive recognition of truth as something that is so.  It’s as if a light suddenly goes on and we recognize the truth in all its splendor
2.  Intelek menyiratkan pengakuan langsung, intuitif kebenaran sebagai sesuatu yang demikian. Seolah-olah lampu tiba-tiba menyala dan kami mengenali kebenaran dengan segala kemegahannya
3. The intellect is developed and cultivated through the study of God’s word, through prayer and the sacraments.
Intelek dikembangkan dan dipupuk melalui studi firman Tuhan, melalui doa dan sakramen.
4. The purified intellect (nous) understands divine truth by immediate experience, intuition or simple cognition,” write the translators of the Philokalia.
4. Intelek murni (nous) memahami kebenaran ilahi melalui pengalaman langsung, intuisi, atau kognisi sederhana, ”tulis para penerjemah Philokalia.
5. The nous is the benefactor and savior of the soul (St. Anthony).
5. Nous adalah dermawan dan penyelamat dari jiwa (St. Anthony).
 

6. The nous is described by Jesus as the eye that is “…the lamp of the body.  If therefore your eye is good, your whole body will be full of light.  But if your eye is bad, your whole body will be full of darkness.  If therefore the light in you is darkness, how great is that darkness” (Matt. 6:22-23)

6.Nous digambarkan oleh Yesus sebagai mata yang “… pelita tubuh. Jika karena itu mata Anda baik, seluruh tubuh Anda akan penuh dengan cahaya. Tetapi jika mata Anda buruk, seluruh tubuh Anda akan penuh dengan kegelapan. Jika karena itu terang di dalam kamu adalah kegelapan, betapa besar kegelapan itu ”(Mat. 6: 22-23)
 

7. The purified intellect (nous) is a spiritual eye that serves as a lamp filling the body with a light. But if the eye is “bad”, i.e., not functioning, the body is filled with darkness.

7. Intelek murni (nous) adalah mata spiritual yang berfungsi sebagai lampu yang mengisi tubuh dengan cahaya. Tetapi jika mata “buruk”, mis., Tidak berfungsi, tubuh dipenuhi dengan kegelapan.

8. The nous is called and empowered to be by God’s grace the hegemonikon, the rudder or helm that steers and rules the kingdom of self.
8. Nous dipanggil dan diberdayakan untuk menjadi anugerah Allah, hegemonikon, kemudi atau kemudi yang mengarahkan dan memerintah kerajaan diri.
 9. The nous is the highest faculty in man through which, if purified, we come to know God
9. Nous adalah fakultas tertinggi dalam diri manusia yang melaluinya, jika disucikan, kita kenal Tuhan
10. The intellect enjoys the love of God and is present in the self-controlled, the holy, the just, the pure, the good, the merciful and the devout” (St. Anthony).
10.Intelek menikmati cinta Tuhan dan hadir dalam diri yang dikendalikan, yang suci, yang adil, yang murni, yang baik, yang berbelas kasih dan yang saleh ”(St Anthony).
 

11. A soul which does not choose the good has no intellect….  The intellect is not present in every soul; and so not every soul is saved” (St. Anthony)

11. Jiwa yang tidak memilih yang baik tidak memiliki kecerdasan …. Intelek tidak ada dalam setiap jiwa; dan karenanya tidak setiap jiwa diselamatkan ”(St. Anthony).

12. The intellect (nous) is not the soul, but a gift of God that saves the soul.  It counsels the soul to despise what is transitory…and to turn all its desire towards God” (St. Anthony).
12. Intelek (nous) bukanlah jiwa, tetapi karunia Tuhan yang menyelamatkan jiwa. Itu menasihati jiwa untuk membenci apa yang sementara ... dan untuk mengubah semua keinginannya kepada Allah ”(St. Anthony).
 

13. The intellect is the organ of wisdom and spiritual knowledge” (St. Maximus).

13. Intelek adalah organ kebijaksanaan dan pengetahuan spiritual ”(St. Maximus).
14. A wise intellect makes the passions its servants” (St. Thalassios). 
14. Akal yang bijaksana menjadikan hawa nafsu sebagai pelayannya ”(St. Thalassios).
 

15. The intellect is the image of God” (St. Peter of Damaskos).

15. Intelek adalah gambar Allah ”(St Peter of Damaskos).

16. The intellect is the organ of contemplation.

16. Intelek adalah organ kontemplasi.

17. It is the “eye of the heart” (Macarius).

17. Nous adalah mata dari hati (Macarius)

18. The intellect is “a treasure-house that tirelessly stores all thoughts” (St. Basil).
18. Intelek adalah “rumah harta karun yang tanpa lelah menyimpan semua logismoi” (St. Basil

19. Just as a gardener weeds his garden, so the intellect is called to reject evil thoughts in order that the flowers of virtue may grow (St. Thalassios).

19. menolak pikiran jahat agar bunga kebajikan tumbuh (St. Thalassios).

20. The purified intellect has the power to discriminate between good and bad thoughts (St. Maximus).

20. Sama seperti seorang tukang kebun menyiangi kebunnya, demikian pula intelek dipanggil untuk menjadi Intelek yang murni yang memiliki kekuatan untuk membedakan antara pikiran baik dan buruk (St. Maximus).

21. Man is ruled either by the law of the flesh or the law of the Spirit. The law of the Spirit operates through the intellect (St. Maximus).

21. Manusia diperintah oleh hukum daging atau hukum Roh. Hukum Roh bekerja melalui akal (St Maximus).

 ST. PAUL ON THE LAW OF THE MIND AND THE LAW OF THE FLESH

Let us ponder for a moment what St. Paul says about the law of the mind (nous) and the law of the flesh. He describes how both these laws operated within him:

For I delight in the law of God according to the inward man.  But I see another law in my members, warring against the law of my mind, and bringing me into captivity to the law of sin which is in my members.  O wretched man that I am!  Who will deliver me from this body of death?  I thank God—through Jesus Christ our Lord!  So then, with the mind I myself serve the law of God, but with the flesh, the law of sin (Rom. 7:22-25).


Hukum daging menyeret kita ke bawah. Hukum pikiran melalui iman dan oleh anugerah Allah membangkitkan kita dari kematian dan menjadikan kita bait suci Roh Kudus yang hidup.
ST. PAUL DI DALAM HUKUM PIKIRAN DAN HUKUM DAGING
 Mari kita renungkan sejenak apa yang dikatakan Santo Paulus tentang hukum akal budi (nous) dan hukum kedagingan. Dia menjelaskan bagaimana kedua hukum ini beroperasi di dalam dirinya:   Karena aku senang akan hukum Allah menurut manusia batiniah. Tetapi saya melihat hukum lain di anggota saya, berperang melawan hukum pikiran saya, dan membawa saya ke dalam penawanan terhadap hukum dosa yang ada di dalam anggota saya. Wahai manusia celaka itu aku! Siapa yang akan membebaskan saya dari tubuh maut ini? Saya berterima kasih kepada Tuhan — melalui Yesus Kristus, Tuhan kita! Jadi, dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh manusia, hukum dosa (Rm. 7: 22-25).

St. Diodochus of Photike comments on the battle between the intellect (nous) and the flesh that St. Paul described above:

How can St. Paul say that “with my intellect I serve the law of God, but with the flesh the law of sin” (Rom. 7:25), unless the intellect is completely free to engage in battle with the demons, gladly submitting itself to grace, whereas the body is attracted by the smell of mindless pleasures?  He can only say this because the wicked spirits of deception are free to lurk in the bodies of those pursuing a spiritual way; “for I know that in me—that is, in my flesh—there dwells nothing good” (Rom. 7:18), says the Apostle, referring to those who are resisting and struggling against sin.  Here he is not merely expressing a personal opinion.  The demons attack the intellect, but they do so by trying through lascivious temptations to entice the flesh down the slope of sensual pleasure.  It is for a good purpose that the demons are allowed to dwell within the body even of those who are struggling vigorously against sin; for in this way man’s free will is constantly put to the test.  If a man, while still alive, can undergo death through his labours, then in his entirety he becomes the dwelling-place of the Holy Spirit; for such a man, before he has died, has already risen from the dead, as was the case with the blessed Apostle Paul and all those who have struggled and are struggling to the utmost against sin

St Diodochus dari Photike mengomentari pertempuran antara intelek (nous) dan daging yang dijelaskan St. Paul di atas:
 
Bagaimana bisa Santo Paulus mengatakan bahwa “Dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa” (Rm. 7:25), kecuali jika intelek itu sepenuhnya bebas untuk terlibat dalam pertempuran dengan setan, dengan senang berserah diri pada rahmat, sedangkan tubuh tertarik oleh aroma kesenangan yang tak ada artinya? Dia hanya dapat mengatakan ini karena roh-roh tipu daya yang jahat bebas untuk mengintai di dalam tubuh orang-orang yang mengejar jalan kerohanian; “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik di situ” (Rm. 7:18), kata Rasul, merujuk kepada mereka yang melawan dan berjuang melawan dosa. Di sini dia tidak hanya mengekspresikan pendapat pribadi. Setan menyerang intelek, tetapi mereka melakukannya dengan mencoba melalui godaan penuh nafsu untuk membujuk daging ke lereng kenikmatan indria. Adalah untuk tujuan yang baik bahwa iblis diizinkan untuk berdiam di dalam tubuh bahkan dari mereka yang berjuang keras melawan dosa; karena dengan cara ini kehendak bebas manusia secara konstan diuji. Jika seseorang, ketika masih hidup, dapat mengalami kematian melalui kerja kerasnya, maka secara keseluruhan ia menjadi tempat tinggal Roh Kudus; karena orang seperti itu, sebelum dia mati, telah bangkit dari kematian, seperti halnya dengan Rasul Paulus yang diberkati dan semua orang yang telah berjuang dan berjuang keras melawan dosa.

 WHERE DOES THE INTELLECT ABIDE?

St. Gregory Palamas asks the question, “What organs does the power of the soul that we call intellect make use of when it is active?”  In other words, where in the body does the nous dwell? He answers as follows,

No one has ever supposed that the mind resides in the finger-nails or the eye-lashes, the nostrils or the lips.  But we all agree that it resides within us, even though we may not all agree as to which of our inner organs it chiefly makes use of.  For some locate it in the head, as though in a sort of acropolis; others consider that its vehicle is the centermost part of the heart, that aspect of the heart that has been purified….  We know very well that our intelligence is neither within us as in a container… — nor yet outside us, for it is united to us; but it is located in the heart as in its own organ.  And we know this because we are taught it not by men but by the Creator of man Himself when He says, “It is not that which goes into man’s mouth that defiles him, but what comes out of it” (Matt. 15:11), adding, “for thoughts come out of the heart” (Matt. 15:19).  St. Makarios the Great says the same: “The heart rules over the whole human organism, and when grace takes possession of the pastures of the heart, it reigns over all a man’s thoughts and members.  For the intellect and all the thoughts of the soul are located there.” 


DIMANA NOUS ADA?

St Gregorius Palamas mengajukan pertanyaan, “Organ apa yang digunakan oleh kekuatan jiwa yang kita sebut intelek ketika ia aktif?” Dengan kata lain, di mana di dalam tubuh tempat tinggal nous? Dia menjawab sebagai berikut,   Tidak ada yang pernah mengira bahwa pikiran berada di kuku jari atau bulu mata, lubang hidung atau bibir. Tetapi kita semua sepakat bahwa itu ada di dalam diri kita, meskipun kita mungkin tidak semua setuju dengan organ dalam mana yang terutama digunakan. Untuk beberapa orang menemukannya di kepala, seolah-olah di semacam akropolis; yang lain menganggap bahwa kendaraannya adalah bagian paling tengah dari hati, aspek hati yang telah dimurnikan…. Kita tahu betul bahwa kecerdasan kita tidak ada di dalam diri kita seperti di dalam wadah … – juga belum di luar kita, karena itu disatukan dengan kita; tetapi terletak di jantung seperti di organnya sendiri. Dan kita tahu ini karena kita diajarkan bukan oleh manusia tetapi oleh Pencipta manusia itu sendiri ketika Dia berkata, “Bukan apa yang masuk ke dalam mulut manusia yang mencemarkan dia, tetapi apa yang keluar darinya” (Mat. 15:11 ), menambahkan, “karena pikiran keluar dari hati” (Mat. 15:19). St Makarios the Great mengatakan hal yang sama: “Jantung mengatur seluruh organisme manusia, dan ketika kasih karunia menguasai padang rumput hati, itu menguasai semua pikiran dan anggota manusia. Karena kecerdasan dan semua pikiran jiwa berada di sana. ”

Our heart is, therefore, the shrine of the intelligence and the chief intellectual organ of the body.  When, therefore, we strive to scrutinize and to amend our intelligence through rigorous watchfulness, how could we do this if we did not collect our intellect, outwardly dispersed through the senses, and bring it back within ourselves—back to the heart itself, the shrine of the thoughts?  It is for this reason that St. Makarios—rightly called blessed—directly after what he says above, adds: “So it is there that we must look to see whether grace has inscribed the laws of the Spirit.”  Where?  In the ruling organ, in the throne of grace, where the intellect and all the thoughts of the soul reside, that is to say, in the heart.  Do you see, then, how greatly necessary it is for those who have chosen a life of self-attentiveness and stillness to bring their intellect back and to enclose it within their body, and particularly within that innermost body within the body that we call the heart? 

Karena itu, hati kita adalah tempat suci kecerdasan dan organ intelektual kepala. Oleh karena itu, ketika kita berusaha untuk meneliti dan mengubah kecerdasan kita melalui pengawasan yang ketat, bagaimana kita dapat melakukan ini jika kita tidak mengumpulkan kecerdasan kita, tersebar ke luar melalui indra, dan membawanya kembali ke dalam diri kita sendiri — kembali ke hati itu sendiri, kuil pikiran? Karena alasan inilah St. Makarios menambahkan: “Jadi di sanalah kita harus melihat apakah rahmat telah menuliskan hukum-hukum Roh.” Di mana? Dalam organ yang berkuasa, di takhta kasih karunia, di mana kecerdasan dan semua pikiran jiwa berada, yaitu, di dalam hati. Jadi, tahukah Anda, betapa perlunya bagi mereka yang telah memilih kehidupan yang penuh perhatian dan keheningan untuk mengembalikan kecerdasan mereka dan melampirkannya di dalam tubuh mereka, dan khususnya di dalam tubuh terdalam di dalam tubuh yang kita sebut jantung?

Thus, when St. Paul says in Romans 10:9 that it is with the heart that one believes, he includes the nous or intellect which dwells in the heart. (Rom.10:9)  This is why many spiritual writers include the nous in the heart by combining the two words and speaking of the “mind-heart”.

Jadi, ketika St Paul berkata dalam Roma 10: 9 bahwa dengan hati orang percaya, ia memasukkan nous atau kecerdasan yang berdiam di dalam hati. (Rm. 10: 9) Inilah sebabnya mengapa banyak penulis rohani memasukkan nous dalam hati dengan menggabungkan dua kata dan berbicara tentang “Nous-hati”.

Eksegesis Matius 6:9-13, Tugas ke-9

(Private Collection)

Eksegesis Matius 6:9-13

            Sering sekali kita mengucapkan doa yang tertulis dalam Matius 6:9-13 tanpa mengerti artinya. Sehingga kita hanya sekedar mengucapkannya tanpa membawanya di dalam hati kita. Supaya kita bisa mengerti, maka kita perlu mengeksegesis apa arti doa yang diajarkan Yesus dalam Matius 6:9-13 ini. Mulai dari kalimat “Bapa kami”. Yesus mengajarkan kita berdoa dengan menyebut “Bapa Kami” menunjukkan hubungan Yesus Kristus dengan Allah Bapa. Berarti ini juga adalah hubungan orang percaya dengan Allah Tritunggal. Kalau Yesus menyebut Dia adalah Bapa berarti Yesus adalah Anak Allah.  “Our Father” berarti kita memiliki Bapa yang sama dengan Yesus berarti kita juga adalah anak-anak Allah dan Yesus adalah Anak Allah. Ini juga menunjukkan bahwa kita diberi hak istimewa untuk memanggil Allah itu sebagai Bapa. Karena Yesus telah mengajarkan kita demikian. Sesungguhnya yang benar-benar lahir dari Allah itu adalah Yesus sendiri dan kita adalah bayi adopsi (Galatia 4:4-5). Kita adalah ahli-ahli waris Allah melalui Yesus Kristus. Kita bisa diadopsi oleh Allah karena kita telah ditebus oleh Yesus Kristus (Galatia 4:5). Berarti berdoa itu adalah berdoa kepada Bapa, di dalam Kristus melalui Roh Kudus.

Bapa gereja Cyprian, mengatakan berdoa itu seperti hubungan sahabat atau keluarga kepada Allah itu sendiri. Ketika kita menyebut “Bapa” berarti ada hubungan keluarga.  Ketika kita berdoa kepada Yesus maka doa-doa kita akan diterima oleh Bapa. Chrys, mengatakan bahwa hal ini menunjukkan pengakuan kita sebagai manusia yang sudah diampuni dosa dan kita sudah diadopsi sebagai anak dan kita sudah satu keluarga dengan Allah.

“In Heaven” menunjukkan doa kita itu ditunjukkan kepada Allah dari bumi ke surga. Hidup kita itu harus naik lagi menuju ke surga (Kolose 3:1). Maksudnya adalah kita harus memikirkan perkara-perkara yang di atas/di surga. Pseudo Chrys, mengatakan kita memiliki Bapa yang di Surga, jadi, kita harus meninggalkan hal-hal duniawi karena kita punya Bapa yang di surga. Chrys, juga mengatakan bahwa kita harus menarik pikiran-pikiran kita dari bumi dan mengarahkannya ke atas/ ke surga.  Augustinus, mengatakan “Kalau kita menyebut “In Heaven” berarti kita sudah menjadi bagian dari orang-orang kudus dan orang-orang benar.”ini menunjukkan bahwa kita adalah seorang pendosa di bumi yang akan mencapai surga menjadi orang benar. Augustinus, mengatakan bahwa bumi ini adalah tempat kita berdoa sebagai orang berdosa dan surga adalah tempat orang benar. Sehingga kalau kita berdoa harus dengan hancur hati supaya diri kita semakin naik ke surga dan menjadi benar.

“Dikuduskanlah Nama-Mu” artinya bagaimana dalam hidup ini, kita menguduskan nama Allah. Di dalam pengertian, kita menguduskan diri kita. Augustinus, mengatakan bahwa ketika kita menyebut nama Dia, menunjukkan bahwa Dia tinggal/Dia ada supaya manusia itu dikuduskan. Sehingga Allah itu bisa dikenal tidak lain adalah kudus. Chrysostom, mengatakan bagi kita dikuduskan adalah dimuliakan. Itu adalah doa yang dibuat oleh manusia supaya Allah itu dimuliakan di dalam hidup kita. Cyprian mengatakan, melihat Dia adalah kudus maka saya adalah kudus (Imamat 27:7). Kita meminta dan memohon supaya kita dikuduskan di dalam baptisan/memakai pakaian kekudusan itu dan menjaga kekudusan itu. oleh sebab itu, ketika kita berdoa, kita harus sadar dan tahu tentang pengudusan sehari-hari.

“Thy Kingdom Come” mengajarkan bahwa kerajaan Allah adalah Allah yang tritunggal itu.  “Datang” berarti turun. Ketika kita menaikkan doa kita kepada Allah berarti doa kita naik ke surga dan pada sisi lain Allah itu turun dari surga kepada kita. Dia adalah Allah yang trasenden dan juga Allah yang immanen. Kerajaan Kristus yang turun itu menunjukkan pegorbanan Kristus. Ini juga menunjukkan bahwa kita berdoa dengan mengatakan “Yesus kuasailah aku yang dulu aku hamba dosa, tapi sekarang aku hamba Allah. Chrys, mengatakan bahwa bagaimana kerajaan Allah itu menaklukan hidup kita, sehingga kita bisa mengambil bagian dalam kerajaan itu. dan Jerom mengatakan bahwa itu artinya kita tidak takut lagi pada hari penghakiman. Karena kerajaan Allah itu telah turun di dalam hati kita masing-masing. Cyprian juga memberikan penjelasan bahwa itu artinya “Jadilah tuan atas diriku, kuasailah hidupku, dan Kristus yang menjadi raja atas aku. Karena kerajaan Allah itu sendiri adalah Kristus.

“KehendakMu di bumi”. Earth menunjukkan tubuh kita yang berdosa. Harus dikuasai oleh kehendak-Nya Kristus. Sama seperti Dia menguasai kerajaan Allah itu. maka ketika Dia yang menjadi raja maka kehendak-Nya yang kita lakukan. Sehingga diri kita adalah kerajaan surga kecil.  Bagaimana mengubah kerajaan di bumi menjadi kerajaan surga. Jerome, mengatakan bahwa kerajaan yang ada di dalam diri kita tidak kalah oleh kerajaan iblis. Bicara soal kekudusan hidup, supaya kita diperintah oleh raja surgawi. Jangan pernah membiarkan diri kita ini diperintah oleh keinginan/nafsu yang berasal dari godaan iblis. Tapi biarlah Tuhan dan kerajaan-Nya yang ada di dalam hati kita masing-masing. Amin.



            Sering sekali kita mengucapkan doa yang tertulis dalam Matius 6:9-13 tanpa mengerti artinya. Sehingga kita hanya sekedar mengucapkannya tanpa membawanya di dalam hati kita. Supaya kita bisa mengerti, maka kita perlu mengeksegesis apa arti doa yang diajarkan Yesus dalam Matius 6:9-13 ini. Mulai dari kalimat “Bapa kami”. Yesus mengajarkan kita berdoa dengan menyebut “Bapa Kami” menunjukkan hubungan Yesus Kristus dengan Allah Bapa. Berarti ini juga adalah hubungan orang percaya dengan Allah Tritunggal. Kalau Yesus menyebut Dia adalah Bapa berarti Yesus adalah Anak Allah.  “Our Father” berarti kita memiliki Bapa yang sama dengan Yesus berarti kita juga adalah anak-anak Allah dan Yesus adalah Anak Allah. Ini juga menunjukkan bahwa kita diberi hak istimewa untuk memanggil Allah itu sebagai Bapa. Karena Yesus telah mengajarkan kita demikian. Sesungguhnya yang benar-benar lahir dari Allah itu adalah Yesus sendiri dan kita adalah bayi adopsi (Galatia 4:4-5). Kita adalah ahli-ahli waris Allah melalui Yesus Kristus. Kita bisa diadopsi oleh Allah karena kita telah ditebus oleh Yesus Kristus (Galatia 4:5). Berarti berdoa itu adalah berdoa kepada Bapa, di dalam Kristus melalui Roh Kudus.

Bapa gereja Cyprian, mengatakan berdoa itu seperti hubungan sahabat atau keluarga kepada Allah itu sendiri. Ketika kita menyebut “Bapa” berarti ada hubungan keluarga.  Ketika kita berdoa kepada Yesus maka doa-doa kita akan diterima oleh Bapa. Chrys, mengatakan bahwa hal ini menunjukkan pengakuan kita sebagai manusia yang sudah diampuni dosa dan kita sudah diadopsi sebagai anak dan kita sudah satu keluarga dengan Allah.

“In Heaven” menunjukkan doa kita itu ditunjukkan kepada Allah dari bumi ke surga. Hidup kita itu harus naik lagi menuju ke surga (Kolose 3:1). Maksudnya adalah kita harus memikirkan perkara-perkara yang di atas/di surga. Pseudo Chrys, mengatakan kita memiliki Bapa yang di Surga, jadi, kita harus meninggalkan hal-hal duniawi karena kita punya Bapa yang di surga. Chrys, juga mengatakan bahwa kita harus menarik pikiran-pikiran kita dari bumi dan mengarahkannya ke atas/ ke surga.  Augustinus, mengatakan “Kalau kita menyebut “In Heaven” berarti kita sudah menjadi bagian dari orang-orang kudus dan orang-orang benar.”ini menunjukkan bahwa kita adalah seorang pendosa di bumi yang akan mencapai surga menjadi orang benar. Augustinus, mengatakan bahwa bumi ini adalah tempat kita berdoa sebagai orang berdosa dan surga adalah tempat orang benar. Sehingga kalau kita berdoa harus dengan hancur hati supaya diri kita semakin naik ke surga dan menjadi benar.

“Dikuduskanlah Nama-Mu” artinya bagaimana dalam hidup ini, kita menguduskan nama Allah. Di dalam pengertian, kita menguduskan diri kita. Augustinus, mengatakan bahwa ketika kita menyebut nama Dia, menunjukkan bahwa Dia tinggal/Dia ada supaya manusia itu dikuduskan. Sehingga Allah itu bisa dikenal tidak lain adalah kudus. Chrysostom, mengatakan bagi kita dikuduskan adalah dimuliakan. Itu adalah doa yang dibuat oleh manusia supaya Allah itu dimuliakan di dalam hidup kita. Cyprian mengatakan, melihat Dia adalah kudus maka saya adalah kudus (Imamat 27:7). Kita meminta dan memohon supaya kita dikuduskan di dalam baptisan/memakai pakaian kekudusan itu dan menjaga kekudusan itu. oleh sebab itu, ketika kita berdoa, kita harus sadar dan tahu tentang pengudusan sehari-hari.

“Thy Kingdom Come” mengajarkan bahwa kerajaan Allah adalah Allah yang tritunggal itu.  “Datang” berarti turun. Ketika kita menaikkan doa kita kepada Allah berarti doa kita naik ke surga dan pada sisi lain Allah itu turun dari surga kepada kita. Dia adalah Allah yang trasenden dan juga Allah yang immanen. Kerajaan Kristus yang turun itu menunjukkan pegorbanan Kristus. Ini juga menunjukkan bahwa kita berdoa dengan mengatakan “Yesus kuasailah aku yang dulu aku hamba dosa, tapi sekarang aku hamba Allah. Chrys, mengatakan bahwa bagaimana kerajaan Allah itu menaklukan hidup kita, sehingga kita bisa mengambil bagian dalam kerajaan itu. dan Jerom mengatakan bahwa itu artinya kita tidak takut lagi pada hari penghakiman. Karena kerajaan Allah itu telah turun di dalam hati kita masing-masing. Cyprian juga memberikan penjelasan bahwa itu artinya “Jadilah tuan atas diriku, kuasailah hidupku, dan Kristus yang menjadi raja atas aku. Karena kerajaan Allah itu sendiri adalah Kristus.

“KehendakMu di bumi”. Earth menunjukkan tubuh kita yang berdosa. Harus dikuasai oleh kehendak-Nya Kristus. Sama seperti Dia menguasai kerajaan Allah itu. maka ketika Dia yang menjadi raja maka kehendak-Nya yang kita lakukan. Sehingga diri kita adalah kerajaan surga kecil.  Bagaimana mengubah kerajaan di bumi menjadi kerajaan surga. Jerome, mengatakan bahwa kerajaan yang ada di dalam diri kita tidak kalah oleh kerajaan iblis. Bicara soal kekudusan hidup, supaya kita diperintah oleh raja surgawi. Jangan pernah membiarkan diri kita ini diperintah oleh keinginan/nafsu yang berasal dari godaan iblis. Tapi biarlah Tuhan dan kerajaan-Nya yang ada di dalam hati kita masing-masing.

“Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya”.

Terjemahan literal: “Berikanlah kami roti yang sehari untuk hari ini”. “our daily bread”, lebih tepat diartikan sebagai “Roti yang berasal dari sorga”. Ini adalah roti spiritual bukan masalah makanan jasmani. Ini adalah roti untuk kehidupan kekal dalam kerajaan surga. supaya dengan makan roti ini, kita punya substansi yang sama seperti Kristus/ untuk menjadi seperti Kristus (Yohanes 6:27-58). Bukan untuk mengenyangkan perut sementara, tapi mengenyangkan jiwa selamanya. Yang menjadi roti kekal itu adalah Kristus dalam wujud daging dan darah (Yohanes 6:58).  Agustinus, mengatakan bahwa ini adlaah roti yang menghasilkan kekekalan. Jiwa yang tidak dikasih makan adalah jiwa yang menuju kematian, sama seperti tubuh tanpa makanan mati. Itulah sebabnya setiap hari, jiwa kita harus meminta makanan untuk jiwa kita di dalam Kristus. Cyprian, berkata bahwa Kristus adalah roti hidup. Dan roti ini bukan milik semua manusia, tetapi, milik kita yang berdoa. Berdoa setiap hari berarti kita menerima roti perjamuan kudus setiap hari. Supaya jiwa kita dapat hidup dan anugerah Allah bertumbuh di dalamnya.  Pseudo Chrys, mengatakan bahwa makan roti ini akan memberikan kita kekuatan. Menerima Dia yaitu kita di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Dan kita bisa menguduskan diri kita di dalam Dia.

“Dan ampunilah kesalahan kami….”

Sebenarnya dalam terjemahan aslinya, berkata “Biarlah hutang-hutang kami terlunaskan/diampuni…dst. Cyprian, berkata bahwa setelah Tuhan memberikan roti surgawi itu, maka langkah berikutnya adalah kamu meminta pengampunan dosa. Ini adalah hutang-hutang rohani (Matius 18:21-31) yaitu hutang dosa. Dalam Matius 18:22, Yesus berkata “Ampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali” artinya mengampuni tanpa batas. Pengampunan itu dari Allah, maka yang bisa menghapus hutang dosa itu hanyalah Allah. Allah mengajak manusia itu mengampuni sama seperti Allah telah mengampuni manusia dari hutang dosanya. Augustinus, berkata “Hal ini, bukanlah hanya hutang tapi, segala sesuatu yang melawan Allah”. Jika kita tidak bisa mengampuni sesama kita, maka tentunya kita tidak bisa mengatakan kepada Allah, “Ampunilah dosa-dosaku ya Allah”. Chrys, berkata bahwa kita bisa diampuni apabila kita meminta pengampunan dari Allah. Mengapa kita diminta untuk mengampuni dosa orang lain? Karena kita sudah diampuni oleh Allah. Bukan kita yang mengampuni tapi Allah yang mengampuni orang lain itu melalui kita. Jadi, orang bisa mengenal Allah itu maha pengampun melalui diri kita.

“Dan hindarkanlah kami dalam pencobaan”

Sering sekali ini diartikan bahwa Allah itu membawa kita dalam pencobaan, tapi sebenarnya tidak. Karena Allah tidak pernah mencobai siapapun (Yakobus 1:13).  Dan tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya bukan Allah (ayat 1:14).  Jika kita terseret dan terbuahi oleh godaan dari iblis itu maka melahirkan dosa. Dari pencobaan, datangnya logismoi dan logismoi akan menjadi epitumia dan akhirnya menghasilkan dosa. Allah tidak mencobai umatnya tapi maksudnya adalah kita tidak bisa menghindari pencobaan itu sendiri, tapi kita minta kuasa Allah untuk mengalahkan pencobaannya. Mengalhkan akar dari segala nafsu itu. artinya kita berdoa dengan “Pimpinlah aku Tuhan untuk menghadapi pencobaan ini”. Karena peperangan kita adalah melawan para penguasa angkasa yaitu iblis-iblis (Efesus 6:12).  Sehingga untuk mengalahkannnya kita harus menggunakan iman, keadilan, kebenaran, dan perisai iman. Senjata api iblis itu dinamakan temptation melalui kesombongan dan kejahatan lainnya. Augustinus, mengatakan bahwa pencobaan itu menyadarkan kita bahwa kita butuh Allah. Kita tidak bisa mengatakan kita tidak dicobai tapi, kita bisa mengatakan bahwa bagaimana saya mengalahkan pencobaan itu menggunakan senjata kebenaran. Cyprian juga mengatakan bahwa ini mengajarkan kita  bahwa kita perlu kerendahan hati dengan meminta anugerah Tuhan melawan pencobaan itu. pencobaan tidak bisa dihindari, tapi bisa dikalahkan oleh anugerah Allah itu. kalau kita bisa mengalahkannya, maka kita disebut berbahagia, karena kita sudah membuktikan bahwa kita sudah tahan uji (Yakobus 1:12). Dalam Yohanes 17:15, juga menjelaskan bahwa Bapalah yang akan menjaga kita dari yang jahat. Mintalah kekuatan dari Allah. Sebab, Allah itu setia, selalu menemani kita untuk menghadapi cobaan (1 Korintus 10:13; 2 Tesalonika 3:3). Dan untuk melawan cobaan itu juga kita bisa menggunakan antherhesis/membantah balik seperti yang dilakukan oleh Yesus dan Yusuf waktu mereka dicobai. Melawan iblis dengan firman Allah atau membantah balik adalah salah satu senjata yang praktis bagi kita untuk mengalahkan iblis itu.

“Lepaskanlah kami dari iblis dan godaannya

Artinya Allah punya kuasa untuk menolong kita, untuk mengalahkan si jahat. Chrys, mengatakan bahwa doa ini membuat kita menjadi confidence lagi. Karena kita bisa sadar bahwa Allah punya kuasa. Jadi kita tidak perlu takut lagi. Dia tidak hanya bisa melepaskan kita dari si jahat, tapi Dia juga bisa membuat kita mulia seperti Kristus.

Berdasarkan hal ini, kita menyimpulkan bahwa doa Bapa kami ini adalah seperti perjalanan spiritual kita. Yaitu kita diangkat menjadi anak-anak Allah, kemudian kita melakukan apa yang menjadi kehendak Allah di bumi. Dan kita butuh makanan jiwa untuk membuat kita punya power untuk melawan dosa, melawan pencobaan iblis, dan kita bisa mengampuni orang lain. Ini adalah personal salvation yang bisa kita lakukan dalam kehidupan kita.  Kita juga diajak untuk mengajak orang lain mengenak Bapa yang penuh kasih melalui pengampunan terhadap orang lain. Intinya kita mau melakukan kehendak Allah dan kita melawan dosa bersama anugerah Allah itu.

passion

Nama               : Mercy Kristini Hia

Semester        :V

M.K.                : Dogmatika 4

Tugas               : Ke-10

            Passion berasal dari kata pasco yaitu penderitaan atau penyakit dari batin yang menyerang reason, desire, emotion. Passion juga dapat diartikan sebagai keinginan-keinginan yang memuaskan daging yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Temptation atau perasmos atau godaan yang berasal dari iblis. Selalu ada dari iblis setelah itu pikiran-pikiran itu mulai menyatu dengan godaan dan menghasilkan pikiran jahat.

Melakukan virtues dengan iman

Reason, desire, dan emotion harus konek dengan Allah dalam bentuk iman kepada Allah. Baru disitu ada anugerah Allah. Faith itu bukan hanya sekedar kata-kata tapi di dalam faith itu ada the energy of God yang bekerja. Kita bisa merespon the energy of God hanya karena iman.

Melakukan virtues dengan takut akan Allah

Mengapa takut akan Allah?

Karena kita bertemu dengan Allah yang penuh dengan api ilahi. Oleh karena itu, kita harus menghormati terang itu/api itu seperti itu juga kita takut akan Allah yaitu dengan bersikap hormat kepada-Nya.  Takut akan Dia itu sama seperti takut akan hari penghakiman itu. Berarti kita menunjukkan rasa hormat kita kepada api itu yaitu hormat yang sehat kepada kuasa Allah.

Self control

 Penguasaan diri adalah virtue yang lain untuk mengalahkan hal-hal yang tidak kelihatan. Hal-hal yang tersembunyi itu ada di dalam hati kita. Hal-hal yang tersembunyi hanya takut pada hal-hal yang tersembunyi juga. Mengalahkan tubuh itu sangatlah mudah  tapi untuk mengalahkan passion jiwa, itu juga sangat sulit.

Kebajikan itu adalah buah dari disiplin askesis dan hanya bisa dicapai melalui anugerah. Virtues itu tantangannya adalah passion.  Oleh karena itu, untuk memurnikan hati, kita harus ada di dalam the energy of God yaitu doa, nepsis, silence, reading the bible dll. Kebajikan itu berasal dari anugerah Allah sedangkan pikiran jahat itu berasal dari iblis.

Longsuffering

Jika kita menderita berarti kita kita tahu mengapa kita harus menderita. Dia yang mengasihi kebajikan berarti  kita akan menuju theosis.  Dan Allah akan menywdiakan pemeliharaan melalui firman-Nya.  Tetapi, dia yang tidak punya kasih akan menghadapi penghakiman dengan berbagai hukuman.

  1.  Mengasihi Allah maka Allah akan memelihara kita
  2. Kasih akan daging akan dihentikan oleh penghakiman Allah.

Dalam menguduskan diri pasti akan menghadapi masalah . tapi, ingat bahwa kita itu dipelihara oleh Tuhan. Waktu kita menderita, janganlah  kita mengikuti jalan dunia ini tapi  tahanlah menderita (Matius 5:10-12).  Kita harus ingat bahwa disaat ada problem masalah kita akan diuji. Jangan karena tubuh menderita, jiwa kita berkompromi. Karena mereka yang menderita akan memiliki kerajaan sorga.

Pengharapan

Pengharapan  itu adalah jika ditengah penderitaan kita, kita bisa melihat theosis. Ketika manusia bisa melihat begitu banyak penderitaan, dia akan melihat bahwa tidak mungkin dia sendiri di dunia ini tapi dia masih punya harapan bahwa ia punya hidup nantinya di dalam kerajan surge. Pengharapan adalah iman akan posisi pada waktu yang akan datang. Pengharapan juga dapat diartikan sebagai iman yang bisa kita lihat pada waktu yang akan datang. Meskipun jalannya penuh salib tetapi tetap yakin ada pengharapan. Hope itu adalah mata dari iman kita yang melihat Allah atau melihat theosis yang akan datang.  Dimitru berkata, pengharapan adalah visi di dalam hati kita. Jadi, kita bisa melihat hal-hal yang terjadi di dunia yang akan datang. Ini adalah satu kuasa dimana kita bisa melihat waktu secara jelas. Seperti iman menjangkau masa 2000 tahun yang lalu, demikian juga hope membawa kita pada masa yang akan datang.

Kesabaran menderita dengan harapan mendatangkan kerendahan hati dan kelemahlembutan.  Dimitru, mengatakan bahwa kelemahlembutan itu adalah satu pikiran yang sudah tekun dan tidak dipengaruhi lagi oleh penderitaan atau situasi.  Sedangkan humility yaitu ia dapat melakukan itu dengan satu kesadaran bahwa “Bukan aku tapi Tuhan”. Meekness adalah satu keteguhan hati. Seperti bstu karang yang ada di tengah-tengah lautan kemarahan. Humility nenyadari bahwa saya bisa melakukan  semua karena anugerah Allah.

Dispassion

Ketiadaan nafsu adalah suatu kondisi dimana ada jiwa yang damai. Dispassion itu bukan berarti  tidak bisa merasakan lagi keinginan. Tapi, ini adalah suatu keadaan jiwa, dimana ia sudah bisa mengalahkan godaan. Setelah dispassion ada, barulah muncul yang namanya kasih yaitu manusia mengasihi dengan segenap hatinya, emosinya dan seggenap jiwanya. Dengan dispassion, kasih itu menjadi bunga yang bermekar. Kasih itu berarti tidak melakukan dosa lagi.  Lalu dari kasih muncul belas kasihan yaitu memberi sedekah, memberi makan kepada yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, dan memberi minum kepada yang haus. Itu semua berasal dari kasih dan kasih berasal dari pengharapan, dan pengharapan berasal dari iman. Dimitru, mengatakan bahwa kita melihat manusia itu sebagai objek kasih. Kita bisa melakukan ini, apabila di dalamnya sudah bersih. Setelah mencapai yang namanya kasih, barulah tahap praktikos ini selesai, dan kemudian mencapai tahap illumination. Illumination adalah mencapai level spiritual dimana kita mencapai yang namanya theorithikos. Illumination itu adalah kita bersinar atau hati kita itu memancarkan cahaya Kristus. Dan illumination itu sendiri adalah menyerap kebenaran yang berasal dari Allah dalam setiap kehidupan kita dan aktivitas kita sehari-hari.

Keselamatan II, tugas ke-8 Dogmatika 4

Keselamatan

Keselamatan itu adalah menyatu dengan Kristus. Dan menyatu dengan Kristus dengan matinya diatas salib Yesus mengalahkan dosa dan mati, dikuburkan. Penguburannya untuk (Ibrani 2:14) mendapat bagian di dalam mereka. Jadi, matinya mengalahkan maut, penguburannya mengalahkan dosa. Karena iblis itu adalah penguasa maut sehingga secara logika  semua orang yang mati berada di bawah cengkraman iblis. Tapi Yesus tidak mati terus pada hari ke tiga Dia bangkit, berarti iblis tidak bisa mencengkram Dia lagi dalam alam maut. Berarti iblis kalah dengan Kristus. Melalu kematian, penguburan, dan kebangkitan, Yesus mengalahkan iblis, dosa, dan maut, itulah keselamatan. Dan keselamatan itu berada di dalam daging-Nya Yesus itu yaitu dalam kemanusiaan-Nya Yesus itu. jadi, untuk selamata, orang harus menyatu di dalam kemanusiaan Yesus, oleh iman melalui sakramen baptisan, itulah sebabnya kita nanti dipulihkan bukan hanya sekedar posisi karena Allah menganggap kita berdosa menurut transaksi hukum tadi.  Roma 6:9, ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan itu semata-mata kasih karunia dalam arti Allah yang berinisiatif, Allah yang membuat Kristus inkarnasi di dalam dunia, penyaliban, kematian, dan kebangkitannya adalah kehendak-Nya. Bukan karena manusia atau masalah simpati. Tapi ini adalah rencana, pemulihan Allah kepada kodrat manusia sekarang dikembalikan kepada kodrat aslinya. Kalau kita menyatu dengan Kristus maka kita akan menerima kasih karunia dari Allah. Kasih karunia ini bukan hanya sekedar sikap (transaksi hukum). Ini adalah anugerah Tuhan yang wujudnya adalah Yesus melalui penyaliban, kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus. Rencana Allah adalah manusia ikut ambil bagian dalam diri-Nya dalam kemuliaan-Nya. Ini bukan masalah simpati. Berarti masalah keselamatan adalah murni inisiatif Tuhan.

Terpredestinasi dalam arti bahwa Allah sudah tahu siapa yang akan memilih untuk percaya atau siapa yang akan memilih untuk menolak. Dan yang memilih untuk percaya, dalam kemahatahuan-Nya sejak kekal itu, Dia tahu orang itu akan diselamatkan. Sedangkan bagi yang memilih untuk menolak, Allah sudah mengetahui orang itu akan masuk neraka. Jadi, bukan Allah yang menciptakan pilihan tadi, tapi Allah mengetahui bahwa ada orang yang akan diselamatkan dan adalah orang yang tidak diselamatkan. Bukan Allah yang memilih orang itu supaya masuk neraka, yang lainnya masuk surga. Kalau transaksi hukum maka pengertiannya seperti kalimat itu yaitu Allah memilih manusia untuk diselamatkan atau tidak selamat. “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Eph. 1:4 ITB)”. Disini sangat ditekankan kalimat “Sebab di dalam Dia” kalau kita di dalam Kristus, kita terhisap dengan Kristus sebab Kristus itulah yang terpilih sejak dunia dijadikan, jadi kita ikut dipilih di dalam Kristus. Ini tidak berbicara tentang orang per orang dipilih. Kita dalam arti sebagai satu tubuh. Jadi, kalau kita di dalam Kristus maka kita akan dipilih makanya kita di sebut bangsa yang terpilih (1 Petrus 2:9). Manunggal di dalam Kristus itu membutuhkan iman yang menunjukkan perbuatan. Berdasarkan ayat ini menunjukkan bahwa kita dipilih di dalam Kristus itu supaya kita menjadi seperti Allah yaitu kudus tanpa cacat itulah yang disebut Theosis (1 Yohanes 3:2).  

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai